Home / Travel

Selasa, 10 Maret 2026 - 01:00 WIB

Manuskrip Al-Qur’an 170 Tahun Karya Kiai Sholeh Mojokerto

Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan Kiai Sholeh Ilyas berusia sekitar 170 tahun yang tersimpan di Ponpes As Sholichiyah, Kota Mojokerto.

Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan Kiai Sholeh Ilyas berusia sekitar 170 tahun yang tersimpan di Ponpes As Sholichiyah, Kota Mojokerto.

Mojokerto, iNBrita.com — Di Pondok Pesantren As Sholichiyah, Mojokerto, tersimpan sebuah manuskrip Al-Qur’an yang berusia sekitar 170 tahun. Ulama bernama Kiai Sholeh Ilyas menulis mushaf tersebut dengan tangannya sendiri.

Pengasuh Ponpes As Sholichiyah, Mochammad Ilyasin (28), menjelaskan bahwa Kiai Sholeh lahir di Kesesi, Pekalongan, Jawa Tengah sekitar tahun 1810–1820 M. Sejak kecil ia telah menjadi yatim. Keluarganya kemudian mengirimnya untuk belajar agama kepada Kiai Asror di Cirebon, Jawa Barat.

Mengembara Menuntut Ilmu

Setelah menyelesaikan pendidikan di Cirebon, Kiai Sholeh melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ia pernah belajar di Pesantren Tegalsari di Desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Selain itu, ia juga menimba ilmu di Japanan, Pasuruan, serta di Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya, Kiai Sholeh memutuskan hijrah ke Mojokerto. Seorang tokoh agama Mojokerto saat itu, Kiai Rofi’i, kemudian mengambilnya sebagai menantu. Saat ini masyarakat memakamkan Kiai Rofi’i di belakang Masjid Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Perjuangan Mendirikan Pesantren

Sebelum mendirikan pesantren di lokasi sekarang, Kiai Sholeh beberapa kali berpindah tempat untuk berdakwah. Ia pernah berdakwah di Sinoman dan Prajurit Kulon.

Namun, upaya dakwahnya di beberapa tempat tersebut belum berhasil. Saat itu, sebagian masyarakat masih sulit menerima ajaran agama.

Akhirnya, mertuanya memberikan sebidang tanah di Penarip Gang 2. Di tempat itulah Kiai Sholeh mendirikan pesantren.

Baca juga :   3 Bandara di Indonesia Kembali Berstatus Internasional

Berdasarkan cerita para alumni dan berbagai tulisan tentang dirinya, pesantren tersebut sudah berdiri sekitar tahun 1880-an.

Melahirkan Banyak Ulama Mojokerto

Pada masa itu, banyak santri Kiai Sholeh yang kemudian menjadi kiai dan mendirikan pesantren sendiri di Mojokerto.

Beberapa di antaranya yaitu KH Ahmad Tamyiz, pendiri Ponpes Hidayatul Muwaffiq di Desa Penompo, Kecamatan Jetis. Ada juga KH Achyat Chalimi, pendiri Ponpes Sabilul Muttaqin di Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Mojokerto.

Selain itu, terdapat KH Yahdi Matlab yang mengasuh Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo. Kemudian KH Qusyairi Manshur yang mendirikan Pesantren Darul Hikmah di Sawahan, Kecamatan Mojosari, serta KH Umar Syahid dari Pacitan yang dikenal sebagai Mbah Umar Tumbu.

Menurut Gus Ilyasin, banyak pendiri pesantren di Mojokerto pernah menimba ilmu di pesantren Kiai Sholeh. Karena itu, sebagian orang menyebut pesantren ini sebagai salah satu yang tertua di Mojokerto.

Menulis Al-Qur’an dengan Tangan Sendiri

Selain berdakwah, Kiai Sholeh juga dikenal sebagai penulis manuskrip Al-Qur’an. Ia menulis mushaf tersebut sekitar tahun 1850–1860 M ketika masih belajar di Pesantren Tegalsari.

Kiai Sholeh menulis mushaf itu secara manual menggunakan pena celup dan tinta berbahan dasar air. Ia menggunakan kertas yang terbuat dari serat kayu.

Proses penulisan dari Surah Al-Fatihah hingga An-Nas memakan waktu sekitar dua tahun. Mushaf tersebut memiliki panjang 32 cm dan lebar 20 cm.

Baca juga :   Menjelajahi Rawa Bento, The Amazon of Kerinci

Upah Dua Ekor Sapi

Berdasarkan cerita turun-temurun, Kiai Sholeh sering menerima pesanan untuk menulis Al-Qur’an.

Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari bangsawan, pesantren, hingga pemerintah. Karena proses penulisannya sangat panjang, pemesan biasanya memberikan upah yang cukup besar.

Pada masa itu, penulisan satu mushaf Al-Qur’an biasanya dihargai sekitar dua ekor sapi.

Warisan Pesantren Hingga Kini

Kiai Sholeh wafat pada tahun 1941. Keluarganya memakamkannya di kompleks makam Muasis Ponpes As Sholichiyah.

Setelah itu, putranya Kiai Ismail melanjutkan kepemimpinan pesantren. Kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut kepada cucunya, Kiai Rofi’i Ismail. Saat ini, pesantren diasuh oleh Gus Ilyasin sebagai generasi keempat.

Nama As Sholichiyah sendiri diambil dari nama Kiai Sholeh. Pesantren ini mulai menggunakan nama tersebut sekitar tahun 1970.

Mengembangkan Pendidikan

Saat ini Ponpes As Sholichiyah memiliki sekitar 25 santri yang tinggal di asrama. Selain mengelola pesantren, yayasan juga menyelenggarakan pendidikan nonformal berupa Madrasah Diniyah Ula, Wustho, dan TPQ.

Untuk pendidikan formal, yayasan mengelola lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Lembaga tersebut meliputi MI Ismailiyah Paradigma Baru (Mipaba), MTs Pesantren Terpadu Al Ismailiyah, serta MA Al Ismailiyah yang masih dalam proses perizinan operasional.

Gus Ilyasin menegaskan bahwa pesantren terus melanjutkan cita-cita para pendirinya. Pesantren ingin terus menyebarkan dakwah Islam, menyediakan pendidikan yang layak, serta membekali generasi muda dengan ilmu agama agar mampu menghadapi perkembangan zaman.

(VVR*)

Berita ini 5 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Turis berjalan di area kuil bergaya Thailand dengan bangunan berwarna emas di latar belakang, sebagian membawa payung untuk berteduh di bawah sinar matahari.

Travel

Turis Thailand Picu Perdebatan Bangkok dan Kuala Lumpur
Trofi Piala Dunia FIFA dipajang saat drawing Piala Dunia 2026 di Washington DC.

Travel

FIFA Atasi Tantangan Tiket Piala Dunia 2026
Pemandangan Rawa Bento di Kayu Aro, Kerinci, Jambi, dengan aliran sungai berkelok di tengah hamparan hijau dan latar Gunung Kerinci yang menjulang megah.

Travel

Menjelajahi Rawa Bento, The Amazon of Kerinci
Ilustrasi seorang pengemudi memegang stir mobil saat perjalanan

Travel

Perjalanan Pergi Terasa Lama, Pulang Lebih Cepat
Petugas kios koran di Paris membantu turis dengan informasi wisata dan aplikasi Paris je t’aime.

Travel

Kios Koran Gantikan Peran Kantor Pariwisata Paris
Lanskap gurun Death Valley di Amerika Serikat dengan hamparan tanah kering dan perbukitan tandus di bawah langit cerah.

Travel

11 Tempat Terpanas di Bumi yang Ekstrem
Pulau Jeju di Korea Selatan dengan pantai biru dan lanskap vulkanik

Travel

7 Destinasi Wisata Dunia yang Trending Tahun 2026
Bunga Rafflesia arnoldii mekar di hutan Sumatera dengan kelopak merah bercak putih sebagai ciri khasnya.

Travel

Keanekaragaman Rafflesia Indonesia: Enam Belas Spesies Unik