Jakarta, iNBrita.com – Tubuh manusia memunculkan respons menguap ketika seseorang merasa mengantuk, lelah, atau bosan. Namun demikian, ilmuwan menjelaskan bahwa menguap tidak hanya menandakan kantuk, tetapi juga melibatkan proses biologis yang lebih kompleks.
Selama ini, banyak orang mengira tubuh manusia menguap karena kekurangan oksigen. Akibatnya, orang akan menarik napas dalam saat menguap untuk meningkatkan kadar oksigen dan menurunkan karbon dioksida, terutama ketika mereka berada dalam kondisi lelah atau di ruangan yang kurang sirkulasi udara. Akan tetapi, berbagai penelitian membantah anggapan tersebut karena tubuh tidak menggunakan menguap sebagai cara utama untuk mengatur oksigen.
Di sisi lain, para peneliti menjelaskan bahwa menguap berkaitan dengan pengaturan suhu tubuh, terutama suhu otak. Pasalnya, otak membutuhkan suhu yang stabil agar dapat bekerja secara optimal. Ketika suhu otak meningkat akibat kelelahan atau aktivitas mental yang tinggi, tubuh secara otomatis memicu refleks menguap untuk membantu proses pendinginan.
Selain itu, profesor psikologi Andrew Gallup pada tahun 2007 melakukan penelitian yang memperkuat teori ini. Ia menemukan bahwa saat seseorang menguap, orang tersebut membuka mulut lebar dan meningkatkan aliran darah ke area kepala. Pada saat yang sama, udara yang masuk dengan cepat menurunkan suhu darah di sekitar otak.
Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa lingkungan memengaruhi frekuensi menguap. Ketika seseorang berada di lingkungan yang lebih hangat, mereka lebih sering menguap, terutama setelah melihat orang lain menguap. Sebaliknya, lingkungan yang lebih sejuk atau penggunaan kompres dingin di kepala dapat menurunkan frekuensi menguap secara signifikan.
Dengan demikian, berbagai temuan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa tubuh menggunakan menguap sebagai mekanisme alami untuk menjaga kestabilan suhu otak. Selain itu, tubuh meningkatkan respons ini ketika mengalami kelelahan fisik maupun mental
(eny)









