Jakarta, iNBrita.com – Perang di Timur Tengah yang terus berlangsung mendorong kenaikan harga produk berbahan plastik. Ahli memperingatkan konsumen bahwa alat makan sekali pakai, minuman kemasan, dan kantong sampah akan naik harga dalam beberapa minggu mendatang.
Plastik sebagian besar berasal dari minyak bumi, yang harganya melonjak lebih dari 40% sejak awal konflik. Patrick Penfield, profesor rantai pasokan di Universitas Syracuse, menyebut biaya pengemasan yang meningkat akan mendorong harga makanan naik dalam dua hingga empat bulan. Di industri otomotif, yang menggunakan plastik hanya sebagai salah satu komponen, harga baru akan meningkat dalam waktu kurang dari setahun.
Ancaman Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz membuat harga minyak dan gas alam melambung. Selat ini menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Plastics Exchange melaporkan harga resin plastik melonjak dua digit dalam 30 hari terakhir. Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange, mengaku, “Selama 25 tahun di industri ini, saya belum pernah melihat kenaikan PE sebesar ini.”
Plastik menembus berbagai sektor, mulai pengemasan, konstruksi, otomotif, hingga kesehatan, sehingga perusahaan sulit menggantinya dalam jangka pendek. Produk sederhana seperti kantong sampah kemungkinan naik harga lebih cepat dibanding barang kompleks seperti mobil.
Jika harga minyak tetap tinggi selama tiga hingga empat bulan, konsumen akan membayar harga lebih tinggi yang berpotensi bertahan satu hingga dua tahun. Greenberg menambahkan, “Bahkan jika perang berakhir besok, rantai pasokan akan membutuhkan waktu lama untuk kembali normal.”
(eny)














