Jakarta, iNBrita.com — Menjelang Ramadan 2026, umat Islam di Indonesia kembali menaruh perhatian pada penentuan awal puasa. Mereka menggunakan pengamatan hilal, yaitu bulan sabit muda pertama yang muncul setelah fase konjungsi bulan, sebagai penanda penting dalam kalender Islam untuk menandai awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, umat Islam memulai puasa setelah melihat hilal atau menyelesaikan bulan sebelumnya menjadi tiga puluh hari. Masyarakat Arab pra-Islam mengamati bulan sebagai sistem penanggalan lunar, dan umat Islam mengembangkan tradisi ini menjadi kalender Hijriah.
Para ilmuwan Islam seperti Al-Biruni, Ibn Yunus, dan Al-Battani menyempurnakan teknik pengamatan hilal. Saat ini, teleskop, kamera digital, dan perangkat lunak astronomi membantu para pengamat meningkatkan akurasi penentuan awal bulan.
Meskipun teknologi modern tersedia, perdebatan antara metode rukyat dan hisab terus berlangsung. Beberapa kalangan menekankan pentingnya melihat hilal secara langsung, sementara yang lain mengandalkan perhitungan astronomi.
Kementerian Agama RI mengoordinasikan penentuan awal Ramadan melalui sidang isbat, menggabungkan hasil pengamatan hilal dari berbagai lokasi dengan kajian hisab. Badan Hisab dan Rukyat membantu memastikan proses ini berjalan ilmiah dan sesuai syariat.
Pengamatan hilal juga menjadi momen kebersamaan umat dalam menyambut bulan suci dan meningkatkan kesiapan spiritual. Menjelang Ramadan 2026, praktik ini kembali menegaskan pentingnya menjaga warisan ilmu dan tradisi Islam, sekaligus harmonisasi antara ilmu pengetahuan, agama, dan budaya.
(eny)













