Jakarta, iNBrita.com – Banyak pekerja melawan rasa kantuk dengan kopi atau camilan manis. Padahal, kebiasaan ini tidak selalu efektif dan justru bisa memicu masalah kesehatan jangka panjang, termasuk risiko diabetes akibat konsumsi gula berlebih.
Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, menjelaskan bahwa penyebab utama rasa kantuk saat bekerja bukan karena kurang kafein, melainkan kurang cairan.
“Coba perhatikan. Saat ngantuk berat di kantor, kebanyakan orang langsung minum kopi atau beli makanan manis. Itu keliru,” kata Doddy Kamis (23/1/2026).
Doddy menyebut, ketika tubuh kekurangan cairan, tubuh memberi sinyal berupa rasa lelah dan mengantuk.
“Coba buktikan sendiri. Saat ngantuk, minum dua gelas air hangat. Biasanya rasa kantuk langsung berkurang,” jelasnya.
Kopi Hanya Memberi Efek Sementara
Doddy mengakui kopi memang bisa membuat mata melek. Namun, efeknya tidak bertahan lama.
“Setelah minum kopi, segarnya hanya sebentar. Setelah itu lemas lagi. Hal yang sama terjadi saat makan camilan manis. Kalau jadi kebiasaan, ginjal bisa terdampak,” ujarnya.
Ia menegaskan, mengandalkan kopi atau minuman manis setiap kali mengantuk bukan solusi sehat.
Menurut Doddy, langkah pencegahan diabetes dan obesitas sebenarnya sangat sederhana.
“Minum air putih dua liter per hari, berjalan kaki atau bergerak selama 30 menit, timbang berat badan setiap bulan, dan ukur tinggi badan setiap empat bulan. Pesannya sederhana, tapi sering diabaikan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya aktivitas fisik. Pola makan enak tanpa gerak tubuh berisiko besar bagi kesehatan.
“Kalau makan enak terus tapi tidak bergerak, itu berbahaya,” tegasnya.
Jaga Pola Makan Seimbang
Dalam hal pola makan, Doddy mendorong masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang beragam.
“Makanlah beragam. Jangan membatasi makanan, kecuali karena alasan agama, kepercayaan, atau kondisi medis,” ujarnya.
Ia mencontohkan, perubahan lokasi tidak otomatis mengubah kebiasaan makan.
“Pergi ke Jogja tidak membuat orang otomatis mengurangi gula. Ke Padang juga tidak membuat santan dan lemak hilang dari menu. Itu tantangannya,” katanya.
Karena itu, ia menilai kunci hidup sehat bukan pada larangan total, melainkan keseimbangan dan konsistensi gaya hidup.
Doddy juga menegaskan bahwa masalah gizi seperti obesitas dan diabetes tidak bisa diselesaikan dengan satu cara untuk semua orang.
“Kalau orang bertanya, ‘Anak saya obesitas, harus makan apa?’ kita harus ukur dulu tinggi dan berat badannya. Setiap orang butuh pendekatan berbeda,” pungkasnya.
(Tim*)













