Jakarta, iNBrita.com – UNICEF melaporkan bahwa 67 anak Palestina tewas di Jalur Gaza sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat bulan lalu. Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang pelaksanaan gencatan senjata di wilayah tersebut.
Juru bicara UNICEF, Ricardo Pires, mengatakan salah satu korban adalah seorang bayi perempuan yang meninggal setelah serangan udara Israel di Khan Younis pada Kamis (20/11/2025). Sehari sebelumnya, tujuh anak juga tewas akibat serangan baru di Gaza.
Menurut data UNICEF dan laporan Al Jazeera, sejak perang dimulai pada Oktober 2023, sekitar 64.000 anak Palestina tewas atau terluka. Selain itu Save the Children juga mencatat ratusan anak mengalami disabilitas permanen setiap bulan. Gaza kini disebut sebagai wilayah dengan jumlah amputasi anak terbesar dalam sejarah modern.
Di tengah serangan, warga Gaza juga menghadapi krisis bantuan. Pembatasan masuknya makanan, obat-obatan, dan air bersih membuat banyak anak menderita kelaparan dan kekurangan gizi.
MSF melaporkan meningkatnya jumlah perempuan dan anak yang mengalami luka tembak, patah tulang, dan cedera serius akibat serangan terbaru. Kesaksian warga menggambarkan situasi panik dan kehancuran di pemukiman padat.
Pires menegaskan bahwa tidak ada tempat aman bagi anak-anak di Gaza, terlebih saat musim dingin tiba dan banyak dari mereka tinggal di tenda tanpa perlindungan memadai.
(ES*)














