Protes Iran Memanas, Ratusan Tewas Akibat Penindakan Aparat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 12 Januari 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Massa turun ke jalan saat aksi protes nasional di Iran, menentang kebijakan pemerintah dan penindakan aparat keamanan.

Massa turun ke jalan saat aksi protes nasional di Iran, menentang kebijakan pemerintah dan penindakan aparat keamanan.

Jakarta, iNBrita.comGelombang protes di Iran terus berlanjut meski pemerintah memperketat penindakan aparat secara masif. Aparat keamanan menewaskan semakin banyak korban, sementara pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon menyulitkan pemantauan kondisi di lapangan.

Para jurnalis dan kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) melaporkan perkembangan terbaru di Iran, termasuk jumlah korban dan pembatasan akses komunikasi. Aktivis Jerman-Iran, Daniela Sepheri, mengatakan kepada DW bahwa warga Iran menghadapi risiko besar saat turun ke jalan.

“Rezim berjuang mempertahankan kekuasaan, sementara rakyat Iran juga berjuang,” kata Sepheri.

Ia menilai situasi di lapangan sangat berbahaya, tetapi kondisi itu tidak mematahkan tekad para demonstran.

“Berdemonstrasi membawa risiko besar, tetapi orang-orang tetap turun ke jalan. Kami menerima laporan mengerikan tentang pembantaian,” ujarnya.

Menurut Sepheri, aparat keamanan secara langsung menyerang para pengunjuk rasa. Aparat bahkan berusaha masuk ke rumah sakit untuk menculik korban yang terluka.

Sepheri menambahkan bahwa pembatasan akses informasi membuat pihaknya kesulitan memverifikasi jumlah korban.

“Pemadaman internet menghambat proses verifikasi data. Namun, beberapa video masih bisa kami akses melalui Starlink. Media Iran di luar negeri terus memverifikasinya sepanjang hari,” jelasnya.

Sepheri memperkirakan aparat telah membunuh ribuan orang hanya dalam dua hingga tiga hari terakhir.

Ia menilai rezim menggunakan kekerasan karena tidak memiliki respons lain terhadap tuntutan rakyat.

“Selama puluhan tahun, rezim hanya merespons protes dengan kekerasan dan mengabaikan suara rakyat,” katanya.

Sepheri menyebut penindakan kali ini sebagai yang paling brutal sepanjang sejarah protes di Iran.

“Saya secara pribadi belum pernah menyaksikan kekerasan sebrutal ini sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Prof. Zudan Perkuat Sanksi Disiplin Bagi ASN September 2025

Ia juga menjelaskan kondisi sosial Iran yang semakin timpang.

“Kesenjangan antara orang kaya dan miskin semakin lebar. Kelas menengah hampir hilang. Kaum elite terus memperkaya diri, sementara rakyat semakin miskin,” kata Sepheri.

Korban mencapai 544 jiwa

Kelompok aktivis mencatat sedikitnya 544 orang tewas akibat penindakan aparat terhadap protes nasional di Iran.

Lembaga HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan lebih dari 10.600 aparat menahan warga selama gelombang protes.

Menurut HRANA, aparat menewaskan 496 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan. Lembaga itu memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah.

HRANA menyusun data tersebut berdasarkan laporan yang telah diverifikasi silang oleh aktivis di dalam dan luar Iran. Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan data korban secara resmi.

Pemerintah puji aparat sebagai ‘martir’

Pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi anggota pasukan keamanan yang tewas selama dua pekan protes. Televisi pemerintah melaporkan keputusan tersebut pada Minggu (11/01).

Otoritas Iran menyebut aksi protes sebagai “kerusuhan” dan memuji aparat yang tewas sebagai “martir.” Pemerintah menggambarkan situasi itu sebagai “perlawanan nasional Iran” terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah di Teheran juga menuduh rival geopolitik asing memicu dan mengintervensi gelombang protes di dalam negeri.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan rencana menggelar pawai bertajuk “aksi perlawanan nasional” pada Senin (12/01).

Protes dinilai memiliki figur pemimpin

Jurnalis Iran sekaligus pemimpin redaksi Kayhan London, Nazenin Ansari, mengatakan kepada DW bahwa gelombang protes kali ini berbeda dari demonstrasi sebelumnya.

Baca Juga :  Mengenal Pemasok Supplier Peran Penting dalam Bisnis

Ia menilai gerakan saat ini memiliki figur pemimpin yang jelas, yakni Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang hidup di pengasingan sejak Revolusi Iran 1979.

“Rakyat Iran telah melakukan protes sejak 2017 dengan gerakan yang bersifat sekuler dan tanpa narasi agama,” kata Ansari.

“Perbedaannya sekarang, gerakan ini memiliki pemimpin, yaitu Pangeran Reza Pahlavi,” lanjutnya.

Reza Pahlavi merupakan putra Mohammad Reza Pahlavi, shah terakhir Iran yang jatuh pada Revolusi Islam 1979.

Ansari membandingkan protes saat ini dengan demonstrasi besar pada 2017, 2019, serta gerakan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” pada 2022 yang muncul setelah kematian Jina Mahsa Amini.

“Kehadiran figur pemimpin membuat protes kali ini semakin kuat,” ujarnya, seraya menyebut berbagai kelompok oposisi mulai bekerja sama.

Keputusan ada di tangan rakyat

Daniela Sepheri berharap rakyat Iran dapat menentukan masa depan negaranya sendiri.

“Saya berharap rakyat Iran membentuk masa depan negara mereka melalui pemilu bebas dan referendum,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa rakyat Iran harus menentukan masa depan sistem pemerintahan, termasuk kemungkinan kembalinya monarki.

“Sebagian orang menginginkan shah kembali, sebagian lainnya menolak. Banyak kelompok minoritas etnis tidak menginginkan kembalinya monarki,” ujarnya.

Sementara itu, Reza Pahlavi sebelumnya menyatakan keinginannya untuk kembali ke Iran dan terlibat dalam proses politik.

Iran memiliki keragaman etnis dan bahasa yang tinggi. Lebih dari 60 persen penduduknya berasal dari etnis Persia, sementara wilayah Kurdi dan Baluch kerap menjadi pusat gejolak dalam berbagai gelombang protes.

(Ven*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Cincin Emas Juara Piala Dunia 2026 Capai Rp196 Juta
Neymar Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026 Bersama Brasil
Gerhana Matahari Total Terlama 2027 Ini Wilayah yang Dilintasi
Spanyol Diguncang Panas Ekstrem, Seribu Orang Tewas
Strawberry Moon Hiasi Langit Indonesia Malam Ini, Simak Jadwal
Klopp Kritik VAR Usai Jerman Tersingkir Piala Dunia
Spanyol Menang Telak 4-0 atas Arab Saudi
Harga Minyak Dunia Naik Usai Dialog AS-Iran Batal
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 21:00 WIB

Harga Cincin Emas Juara Piala Dunia 2026 Capai Rp196 Juta

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:00 WIB

Neymar Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026 Bersama Brasil

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00 WIB

Gerhana Matahari Total Terlama 2027 Ini Wilayah yang Dilintasi

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:00 WIB

Spanyol Diguncang Panas Ekstrem, Seribu Orang Tewas

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:00 WIB

Strawberry Moon Hiasi Langit Indonesia Malam Ini, Simak Jadwal

Berita Terbaru

Ilustrasi taubat. Simak tiga syarat utama agar taubat sah dan diterima menurut ulama. (freepik.com)

Khasanah

Syarat Shalat Taubat Agar Diterima Allah SWT Menurut Ulama

Rabu, 22 Jul 2026 - 04:00 WIB

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Kesehatan

Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Payudara pada Perempuan

Rabu, 22 Jul 2026 - 03:00 WIB

.Ilustrasi kode redeem Free Fire (FF) terbaru dengan berbagai hadiah gratis dari Garena.

Game

Kode Redeem Free Fire Terbaru 22 Juli 2026 Gratis

Rabu, 22 Jul 2026 - 02:00 WIB

Ilustrasi game penghasil saldo GoPay.

Teknologi

Aplikasi Penghasil Uang 2026 Cair ke DANA, Begini Caranya

Rabu, 22 Jul 2026 - 01:00 WIB

Bunga Agapanthus bermekaran dengan warna biru ( Foto Pexels)

Pendidikan

Cara Menanam Bunga Agapanthus agar Cepat Berbunga

Rabu, 22 Jul 2026 - 00:00 WIB