Jakarta, iNBrita.com — Insiden glitch filter kecantikan saat siaran langsung membuat seorang influencer kehilangan sekitar 140 ribu pengikut dalam waktu singkat. Ia sedang melakukan live streaming sambil berjoget, dan filter yang biasanya memutihkan, meniruskan, serta menghaluskan wajahnya tiba-tiba rusak. Wajah aslinya tampil jelas sebelum filter kembali aktif dan berganti-ganti secara tidak stabil.
Reaksi warganet
Warganet bereaksi beragam terhadap insiden tersebut. Sebagian merasa tertipu karena citra digital yang ditampilkan tidak sesuai kenyataan, sehingga komentar sarkastik bermunculan dan menyebut filter itu sebagai “topeng digital”. Namun banyak pengguna lain membela sang kreator. Mereka menilai wajah aslinya tetap menarik dan menyayangkan budaya perundungan yang muncul setelah video viral. Beberapa komentar juga menyoroti tekanan standar kecantikan di media sosial.
Ketergantungan pada citra digital
Penurunan sekitar 140 ribu pengikut menunjukkan besarnya ketergantungan kreator terhadap citra visual yang dianggap sempurna. Dalam industri live streaming, jumlah pengikut berhubungan langsung dengan potensi pendapatan dari endorsement maupun hadiah virtual. Ketika citra digital runtuh, dampaknya dapat segera memengaruhi ekonomi kreator.
Standar kecantikan di Asia Timur
Diskusi ini menghidupkan kembali perdebatan tentang standar kecantikan di Asia Timur, khususnya di Korea Selatan, Jepang, dan China. Kulit cerah, wajah tirus, dan fitur simetris masih sering dianggap ideal. Secara historis, praktik memutihkan kulit telah berlangsung berabad-abad—di Jepang, bubuk putih tradisional dipakai sebagai simbol kemurnian dan status sosial. Kini standar itu bertransformasi melalui filter digital dan aplikasi penyunting wajah.
Teknologi AI dan filter di TikTok
Teknologi AI semakin memperhalus manipulasi visual. Filter yang tersedia di TikTok pada 2023 mampu mengubah wajah secara realistis sehingga batas antara versi asli dan digital semakin kabur. Para pengamat mengingatkan bahwa filter ultra-realistis dapat memicu krisis kepercayaan diri, terutama di kalangan remaja. Banyak pengguna merasa tidak cukup sempurna ketika membandingkan wajah asli dengan versi yang telah disempurnakan secara digital.
Kasus serupa 2019
Kasus glitch ini bukan yang pertama. Pada 2019, seorang streamer di China viral setelah filter yang dipakainya rusak saat siaran langsung. Publik terkejut karena penampilannya berbeda jauh dari persona digital yang biasa ia tampilkan. Peristiwa itu menyoroti fenomena persona virtual dalam industri live streaming yang sangat kompetitif dan menguntungkan.
(Tim*)














