Desa Wae Rebo Surga Budaya di Pegunungan Flores

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Panorama alam yang mengelilingi Desa Wae Rebo menghadirkan suasana sejuk dan alami. ( foto pexels)

Panorama alam yang mengelilingi Desa Wae Rebo menghadirkan suasana sejuk dan alami. ( foto pexels)

Jakarta, iNBrita.com — Indonesia menawarkan lebih dari sekadar panorama alam yang memukau. Di berbagai daerah, masyarakat juga menjaga kekayaan budaya yang diwariskan oleh leluhur mereka. Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak cepat, sejumlah desa adat tetap mempertahankan tradisi lama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah Desa Wae Rebo, sebuah desa adat yang berdiri tenang di kawasan pegunungan di Flores.

Masyarakat Manggarai membangun desa ini jauh dari keramaian kota. Karena itu, mereka mampu menjaga keaslian budaya serta pola hidup tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Banyak wisatawan yang datang ke Labuan Bajo kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wae Rebo untuk merasakan suasana desa adat yang masih alami. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat menjalani kehidupan tradisional mereka.

Desa yang Berdiri di Ketinggian Pegunungan

Masyarakat Manggarai mendirikan Desa Wae Rebo di ketinggian sekitar 1.088 meter di atas permukaan laut. Mereka memilih lokasi di tengah perbukitan hijau yang dikelilingi hutan lebat. Lingkungan tersebut membuat udara di desa terasa sejuk sepanjang hari.

Pada pagi hari, kabut tipis sering turun dan menyelimuti kawasan desa. Ketika matahari mulai muncul dari balik pegunungan, kabut perlahan terbuka dan memperlihatkan deretan rumah adat yang berdiri di tengah lapangan desa. Pemandangan ini menghadirkan suasana yang tenang sekaligus memukau sehingga banyak orang menyebut Wae Rebo sebagai negeri di atas awan.

Tujuh Rumah Adat yang Menjadi Pusat Kehidupan

Penduduk desa mempertahankan tujuh rumah adat utama yang mereka sebut Mbaru Niang. Mereka membangun rumah-rumah ini dengan bentuk kerucut tinggi serta menggunakan daun lontar dan serat ijuk sebagai bahan atap.

Rumah tradisional tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Warga memanfaatkan setiap tingkat rumah untuk kebutuhan yang berbeda. Mereka menggunakan lantai pertama sebagai ruang berkumpul dan tempat tinggal keluarga. Sementara itu, mereka memanfaatkan tingkat-tingkat di atasnya untuk menyimpan bahan makanan, benih tanaman, serta benda-benda penting yang berkaitan dengan tradisi adat.

Baca Juga :  Perantau Minang Uda Jon Bangun Rental Mobil di Negeri Sakura

Melalui rumah Mbaru Niang, masyarakat Wae Rebo mempertahankan identitas budaya sekaligus menjaga pola hidup komunal yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Perjalanan yang Menjadi Bagian dari Pengalaman

Banyak wisatawan memulai perjalanan menuju desa ini dari Labuan Bajo. Mereka menempuh perjalanan darat sekitar lima jam hingga mencapai Desa Denge.

Setelah tiba di desa tersebut, para pengunjung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalur perbukitan selama kurang lebih tiga jam. Jalur trekking ini menanjak dan melintasi kawasan hutan yang masih alami. Walaupun perjalanan terasa cukup melelahkan, para wisatawan tetap menikmati pemandangan alam Flores yang terbentang sepanjang jalur perjalanan.

Ketika mereka akhirnya tiba di Wae Rebo, rasa lelah biasanya langsung berubah menjadi rasa kagum saat melihat desa adat yang berdiri di tengah pegunungan.

Tradisi Penyambutan bagi Para Tamu

Setiap tamu yang datang tidak langsung menjelajahi desa. Masyarakat terlebih dahulu mengajak mereka menuju rumah adat utama yang mereka sebut Niang Gendang.

Di rumah tersebut, tetua adat memimpin ritual yang dikenal sebagai Waelu’u. Melalui ritual ini, masyarakat meminta izin kepada para leluhur agar para tamu dapat berada di desa dengan aman serta menghormati aturan adat yang berlaku.

Setelah ritual selesai, warga desa biasanya menyuguhkan kopi Flores kepada para tamu. Suasana pun berubah menjadi hangat karena para pengunjung mulai berbincang dengan masyarakat setempat dan mendengarkan cerita tentang kehidupan desa.

Kisah Leluhur yang Datang dari Tanah Jauh

Masyarakat Wae Rebo juga mewariskan kisah tentang asal-usul leluhur mereka. Menurut cerita turun-temurun, nenek moyang mereka berasal dari wilayah Sumatra Barat.

Baca Juga :  Air Terjun Dadakan Sembalun Hadirkan Pemandangan Hijau

Dalam cerita tersebut, masyarakat sering menyebut nama Empo Maro sebagai tokoh yang melakukan perjalanan panjang hingga akhirnya menetap di Flores. Setelah menetap di wilayah ini, keturunannya membangun kehidupan bersama masyarakat Manggarai dan membentuk komunitas yang kemudian berkembang menjadi Desa Wae Rebo.

Kisah perjalanan leluhur tersebut hingga kini masih menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat desa.

Upacara Penti sebagai Ungkapan Syukur

Selain menjaga arsitektur tradisional, masyarakat desa juga mempertahankan berbagai ritual adat. Salah satu tradisi terpenting yang mereka jalankan adalah Upacara Penti.

Setiap tahun, masyarakat mengadakan upacara ini sebagai tanda pergantian tahun adat Manggarai. Melalui upacara tersebut, mereka menyampaikan rasa syukur atas hasil panen yang telah mereka terima serta memohon perlindungan bagi kehidupan masyarakat pada tahun berikutnya.

Pengakuan dari Dunia Internasional

Keunikan budaya dan arsitektur desa ini akhirnya menarik perhatian dunia. Pada tahun 2012, UNESCO memberikan apresiasi atas upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya mereka.

Selain itu, arsitektur rumah adat Mbaru Niang juga meraih penghargaan dari Aga Khan Award for Architecture. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa nilai budaya yang dijaga oleh masyarakat Wae Rebo memiliki arti penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

Kini, Desa Wae Rebo dikenal luas sebagai destinasi wisata budaya yang unik. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo kemudian menyempatkan diri untuk datang ke desa ini.

Melalui perjalanan tersebut, mereka tidak hanya menikmati keindahan alam Flores, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Wae Rebo menjaga tradisi leluhur mereka hingga hari ini.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wisatawan Mancanegara, Pariwisata Indonesia Tetap Tangguh
Rekomendasi Parfum Pria Tahan Lama Terbaik 2026
Wisata Gunung Kerinci Masih Favorit Saat Libur Sekolah 2026
Game Penghasil Uang 2026 Terbaru Langsung Cair ke Dana
Ini Alasan Australia Diakui Sebagai Sebuah Benua
InJourney Airports Hadirkan Hiburan Keluarga Saat Libur Sekolah.
Jepang Siapkan Pajak Baru untuk Wisatawan Asing
Cara Menanam Bunga Bakung dan Narcissus Agar Subur
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 19:00 WIB

Wisatawan Mancanegara, Pariwisata Indonesia Tetap Tangguh

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:00 WIB

Rekomendasi Parfum Pria Tahan Lama Terbaik 2026

Selasa, 30 Juni 2026 - 22:00 WIB

Wisata Gunung Kerinci Masih Favorit Saat Libur Sekolah 2026

Senin, 29 Juni 2026 - 12:00 WIB

Game Penghasil Uang 2026 Terbaru Langsung Cair ke Dana

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:00 WIB

Ini Alasan Australia Diakui Sebagai Sebuah Benua

Berita Terbaru

Teh chamomile hangat menjadi salah satu minuman alami yang membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.(Foto : Pixabay/Полина Андреева)

Kesehatan

5 Minuman Malam Hari Bantu Tidur Nyenyak Tanpa Obat

Rabu, 15 Jul 2026 - 23:00 WIB

Perwakilan PT TASPEN menyerahkan santunan JKK kepada ahli waris PPPK Nurijah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.(Foto : Arsp Foto Taspen)

Ekonomi

Santunan JKK TASPEN Cair Rp832 Juta untuk Ahli Waris

Rabu, 15 Jul 2026 - 22:00 WIB

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana (kanan) bersama jajaran saat konferensi pers memaparkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara di Jakarta, 2026.(Foto : Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Travel

Wisatawan Mancanegara, Pariwisata Indonesia Tetap Tangguh

Rabu, 15 Jul 2026 - 19:00 WIB

Nissan Tekton tampil dengan desain SUV tangguh dan modern, resmi meluncur di India dengan harga mulai Rp 199 jutaan.(Foto: Dok. Nissan)

Teknologi

Nissan Tekton SUV Baru Irit 19 Km Dijual Murah

Rabu, 15 Jul 2026 - 18:00 WIB

Tecno Pova 8 5G hadir dengan baterai 8000mAh dan fitur Alive Matrix Display yang unik.(foto : Dok.Tecno)

Teknologi

Tecno Pova 8 5G Resmi Indonesia, Baterai 8000mAh

Rabu, 15 Jul 2026 - 16:00 WIB