PM Israel Mundur Usai Menderita Sakit Parah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 April 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Bendera Israel. (Freepik)

Foto: Bendera Israel. (Freepik)

Jakarta, iNBrita.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa ia tengah menjalani perawatan kanker prostat stadium awal yang telah ia derita selama beberapa bulan terakhir. Kondisi ini pun langsung menarik perhatian publik internasional, sekaligus mengingatkan dunia pada kisah tragis pemimpin Israel di masa lalu.

Netanyahu Jalani Pengobatan Kanker Prostat

Di sisi lain, kondisi kesehatan Netanyahu saat ini masih dalam tahap awal penanganan. Meski demikian, kabar tersebut tetap memicu perhatian luas karena menyangkut stabilitas kepemimpinan di Israel. Selain itu, publik juga mulai membandingkan situasi ini dengan pengalaman pemimpin sebelumnya yang menghadapi krisis kesehatan serius saat menjabat.

Ariel Sharon Alami Nasib Lebih Tragis

Sekitar dua dekade silam, Ariel Sharon mengalami kondisi yang jauh lebih dramatis. Ia mengakhiri masa jabatannya secara mendadak setelah stroke parah menyerangnya pada 2005. Akibatnya, serangan tersebut menghentikan karier politiknya dan sekaligus mengubah total kehidupannya.

Setelah itu, Sharon menghabiskan bertahun-tahun dalam kondisi koma. Menurut laporan The Independent, tim medis menopang hidupnya dengan berbagai alat bantu. Mereka memberikan asupan makanan dan minuman melalui selang, sementara itu tubuhnya hampir tidak menunjukkan respons terhadap lingkungan. Dengan kata lain, ia tetap hidup secara medis, tetapi kondisinya sangat bergantung pada perawatan intensif.

Baca Juga :  Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026

Kondisi tersebut kemudian mengguncang dunia. Pasalnya, publik internasional menyaksikan bagaimana seorang pemimpin yang sebelumnya kuat di medan perang berubah menjadi sosok yang tak berdaya dalam waktu singkat.

Hingga akhirnya, kondisi itu berujung pada wafatnya Sharon pada 11 Januari 2014 di usia 85 tahun.

Karier Militer Penuh Prestasi dan Kontroversi

Sebelumnya, Sharon membangun reputasi sebagai figur militer yang berpengaruh sekaligus kontroversial. Dalam hal ini, buku Warrior: The Autobiography of Ariel Sharon mencatat bahwa ia terlibat sejak muda dalam gerakan Zionisme dan berbagai konflik bersenjata. Berkat karakter kerasnya, David Ben-Gurion mempercayakan kepadanya posisi komandan militer di usia muda.

Selanjutnya, Sharon meningkatkan karier militernya sejak Perang Arab-Israel 1948 dengan berperan dalam mempertahankan Yerusalem. Tidak berhenti di situ, ia terlibat dalam berbagai konflik besar, seperti Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973.

Baca Juga :  Ketegangan AS Iran Memanas Jelang Akhir Gencatan Senjata

Namun demikian, perjalanan tersebut tidak lepas dari kontroversi. Berdasarkan laporan Al Jazeera, sejumlah operasi militer yang ia pimpin menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Terlebih lagi, dua peristiwa yang paling disorot, yakni Pembantaian Qibya 1953 dan Pembantaian Sabra dan Shatila 1982, memicu kecaman luas dari komunitas internasional.

Dari Puncak Kekuasaan hingga Akhir Karier

Setelah itu, Sharon beralih ke dunia politik. Pada akhirnya, ia mencapai puncak kariernya saat terpilih sebagai Perdana Menteri Israel pada 2001. Selama menjabat, ia menerapkan kebijakan keras, terutama dalam operasi militer di wilayah Palestina serta pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat.

Di samping itu, Sharon juga mengumpulkan kekayaan dari sektor pertanian, peternakan, dan properti, sehingga ia dikenal sebagai salah satu perdana menteri terkaya di Israel. Akan tetapi, stroke yang menyerangnya menghentikan seluruh aktivitasnya secara tiba-tiba.

Akibat kondisi tersebut, ia tidak lagi mampu menjalankan tugas pemerintahan. Oleh karena itu, Ehud Olmert kemudian menggantikan posisinya sebagai Perdana Menteri, sekaligus menandai berakhirnya era kepemimpinan Ariel Sharon.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel Lebanon Diperpanjang
AS: Pembersihan Ranjau Selat Hormuz Butuh Enam Bulan
Iran Tuduh AS Gunakan Backdoor Lumpuhkan Jaringan Nasional
Trump Perpanjang Gencatan Senjata, AS Tetap Siaga
Rosan Roeslani Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia Singapura
Skandal Menaker AS Berujung Pengunduran Diri Chavez-DeRemer
Ketegangan AS Iran Memanas Jelang Akhir Gencatan Senjata
Rupiah Menguat, Mata Uang Asia Bergerak Variatif Hari Ini
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 20:00 WIB

PM Israel Mundur Usai Menderita Sakit Parah

Jumat, 24 April 2026 - 06:00 WIB

Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel Lebanon Diperpanjang

Kamis, 23 April 2026 - 17:00 WIB

AS: Pembersihan Ranjau Selat Hormuz Butuh Enam Bulan

Kamis, 23 April 2026 - 14:00 WIB

Iran Tuduh AS Gunakan Backdoor Lumpuhkan Jaringan Nasional

Rabu, 22 April 2026 - 11:00 WIB

Trump Perpanjang Gencatan Senjata, AS Tetap Siaga

Berita Terbaru

Masyarakat mengunjungi kawasan Plaza Seremoni di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara dengan latar patung sayap Garuda.

Nasional

UNDSS Tinjau IKN, Perkuat Peluang Kolaborasi Global

Minggu, 26 Apr 2026 - 21:00 WIB

Foto: Bendera Israel. (Freepik)

Internasional

PM Israel Mundur Usai Menderita Sakit Parah

Minggu, 26 Apr 2026 - 20:00 WIB

Emas Antam menjadi salah satu pilihan investasi yang diminati saat kondisi ekonomi global tidak menentu.

Ekonomi

Harga Emas Diprediksi Menguat Pekan Depan Stabil

Minggu, 26 Apr 2026 - 19:00 WIB

Chery menampilkan Chery Tiggo V sebagai mobil keluarga 3-in-1 dalam ajang Beijing Auto Show 2026

Teknologi

Chery Tiggo V Mobil Keluarga 3-in-1 Futuristik

Minggu, 26 Apr 2026 - 18:00 WIB

Foto: Syifa Hadju resmi menikah dengan El Rumi pada Minggu, 26 April 2026. (Tangkapan layar instagram @elelrumi)

Entertainment

El Rumi dan Syifa Hadju Resmi Nikah Megah Penuh Haru

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:00 WIB