Penjualan ritel tetap tumbuh di tengah tekanan global
Jakarta , iNBrita.com — Di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, sektor ritel Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif pada awal 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 2,4% secara tahunan (yoy) pada Maret 2026, dengan dukungan dari sejumlah kelompok barang utama.
BI menjelaskan bahwa kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, tembakau, serta barang budaya dan rekreasi mendorong kenaikan penjualan.
Sementara itu, IPR pada Februari 2026 tumbuh 6,5% (yoy), sedangkan Januari mencatat 5,7% (yoy). Kondisi ini menunjukkan perlambatan pada Maret setelah pertumbuhan yang lebih tinggi pada dua bulan sebelumnya.
Lonjakan bulanan terjadi saat Ramadan dan Idulfitri
Angka ini melampaui Februari yang hanya tumbuh 4,1% (mtm). Peningkatan ini terjadi karena masyarakat meningkatkan belanja selama Ramadan dan Idulfitri, terutama untuk elektronik, bahan bakar, dan sandang.
Di sisi lain, Bank Indonesia memproyeksikan tekanan inflasi meningkat dalam tiga bulan ke depan. BI mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 naik menjadi 157,4. Namun demikian, BI memperkirakan inflasi akan stabil pada Agustus 2026.
Konsumsi rumah tangga dinilai belum kuat
Meskipun demikian, sejumlah ekonom menilai konsumsi rumah tangga belum menguat secara merata. Selain itu, Faisal menilai belanja non-esensial menurun sehingga menunjukkan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dan menahan pengeluaran. Padahal, biasanya momen tersebut mendorong lonjakan konsumsi.
Faktor global ikut menekan konsumsi
Lebih lanjut, ia menilai konflik di Timur Tengah turut memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian global membuat masyarakat menunda pembelian dan menekan belanja.
Senada dengan itu, Ekonom INDEF Tauhid Ahmad menilai ekonomi Indonesia masih relatif tangguh, tetapi konsumsi rumah tangga belum menunjukkan penguatan yang signifikan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pertumbuhan IPR yang masih rendah menunjukkan konsumsi belum benar-benar kuat, meskipun Lebaran biasanya meningkatkan belanja masyarakat.
Selain itu, ia juga menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan harga energi akibat konflik global yang membuat mereka lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang
(eny)









