Jakarta, iNBrita.com — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Pada pagi hari, rupiah bahkan menembus kembali level psikologisnya.
Rupiah Tembus Level 17.700
Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.15 WIB rupiah berada di posisi Rp17.700 per dolar AS, atau melemah 0,34%. Pelemahan ini lebih dalam dibandingkan saat pembukaan perdagangan, ketika rupiah dibuka turun 0,11% ke level Rp17.660 per dolar AS.
Dengan posisi tersebut, rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp17.700 per dolar AS. Tren ini melanjutkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, Kamis (21/5/2026), saat rupiah ditutup turun 0,23% ke Rp17.640 per dolar AS.
Pasar Tunggu Data NPI
Hari ini, pasar memperkirakan sejumlah agenda ekonomi domestik akan memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satu faktor utama adalah rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 oleh Bank Indonesia (BI).
Investor akan mencermati data ini untuk menilai ketahanan eksternal Indonesia di tengah tekanan terhadap rupiah, harga minyak yang masih tinggi, serta penguatan dolar AS.
Kinerja NPI Sebelumnya
Pada kuartal IV-2025, Indonesia mencatat surplus NPI sebesar US$6,1 miliar, membaik dibandingkan defisit US$4,0 miliar pada kuartal III-2025.
Namun, transaksi berjalan pada periode tersebut mencatat defisit US$2,5 miliar atau 0,7% dari PDB, berbalik dari surplus US$4,0 miliar atau 1,1% dari PDB pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$8,3 miliar setelah sebelumnya mengalami defisit US$8,0 miliar. Aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio menjadi penopang utama surplus ini.
Tekanan Eksternal Masih Tinggi
Ke depan, pasar akan fokus pada kemampuan NPI kuartal I-2026 untuk tetap mencatat surplus, terutama di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat konflik di Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, dan penguatan dolar AS.
Dolar AS Dominan di Pasar Global
Dari sisi global, pergerakan dolar AS juga masih mendominasi sentimen pasar. Indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi dalam enam minggu terakhir, meskipun sempat bergerak volatil akibat ketidakpastian terkait peluang kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Hingga saat ini, Washington dan Teheran masih berbeda pandangan mengenai stok uranium Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan adanya sejumlah sinyal positif dalam proses negosiasi.
Ruang Penguatan Rupiah Terbatas
Selama dolar AS bertahan di level tinggi, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan menghadapi ruang penguatan yang terbatas.
(VVR*)









