Rupiah Tertekan Sentimen Global
Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (30/6). Mata uang Garuda turun 56 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.907 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, rupiah masih berada di level Rp17.851 per dolar AS.
Pelemahan tersebut dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat membuat investor lebih berhati-hati.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, belum adanya kepastian mengenai kelanjutan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran pelaku pasar. Kondisi itu juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
“Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menunjukkan rapuhnya kesepakatan penghentian konflik yang sebelumnya telah memengaruhi jalur distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Selasa.
Sebelumnya, pasar berharap Qatar menjadi lokasi perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran. Namun, harapan itu memudar setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan tidak ada agenda perundingan dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Pasar Menunggu Data Amerika Serikat
Di sisi lain, investor juga mencermati arah kebijakan bank sentral AS. Bahkan, sejumlah pejabat Federal Reserve masih mempertahankan sikap hawkish. Karena itu, pelaku pasar semakin yakin peluang kenaikan suku bunga acuan masih terbuka pada tahun ini.
Selanjutnya, investor akan mencermati laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Kamis.
Mayoritas analis memperkirakan ekonomi Amerika Serikat mampu menciptakan sekitar 114 ribu lapangan kerja baru. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,3 persen.
Jika data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpeluang menguat. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
Neraca Perdagangan Jadi Sorotan
Selain sentimen global, investor juga menunggu publikasi data neraca perdagangan Indonesia periode Mei. Pasar menilai penyusutan surplus perdagangan dapat memperbesar tekanan terhadap transaksi berjalan apabila arus modal asing belum meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS.
Ibrahim menilai penurunan surplus perdagangan dapat mengurangi daya tahan sektor eksternal Indonesia. Kondisi tersebut juga berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila aliran modal asing belum kembali menguat.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ikut melemah. Pada perdagangan Selasa, JISDOR berada di level Rp17.899 per dolar AS. Sebelumnya, kurs referensi itu masih tercatat sebesar Rp17.856 per dolar AS.
(eny)









