Ketegangan Geopolitik Dorong Harga Minyak
Jakarta, iNBrita.com – Harga minyak dunia kembali menguat setelah Amerika Serikat dan Iran membatalkan agenda perundingan damai yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss. Akibatnya, pelaku pasar kembali mencemaskan stabilitas kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi global.
Selain itu, investor menilai pembatalan pertemuan tersebut menunjukkan bahwa kedua negara masih menghadapi berbagai hambatan untuk mencapai kesepakatan damai permanen. Karena itu, mereka meningkatkan aktivitas perdagangan di sektor energi untuk mengantisipasi risiko geopolitik yang kembali meningkat.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,8 persen menjadi 80,48 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat hampir 1 persen hingga mencapai 77,35 dolar AS per barel.
Sebelumnya, pasar sempat menurunkan harga minyak setelah muncul kabar gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah yang didukung Iran. Namun, kabar pembatalan dialog AS-Iran langsung menghapus sentimen positif tersebut. Alhasil, investor kembali mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.
Swiss dan AS Batalkan Agenda Negosiasi
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Swiss memastikan pembatalan perundingan yang rencananya berlangsung di kawasan Bürgenstock pada Jumat. Padahal, banyak negara dan pelaku pasar berharap pertemuan tersebut dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Selanjutnya, Gedung Putih membenarkan pembatalan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Swiss. Pemerintah AS menyebut sejumlah kendala logistik sebagai penyebab tertundanya agenda negosiasi tersebut.
Meski demikian, sehari sebelum pembatalan, Vance menyampaikan perkembangan positif terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Ia mengungkapkan bahwa kapal tanker yang membawa lebih dari 12 juta barel minyak berhasil melintasi jalur tersebut tanpa gangguan.
Bahkan, Vance menegaskan bahwa Iran tidak menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz selama dua malam berturut-turut.
OPEC Optimistis terhadap Permintaan Global
Di tengah ketidakpastian tersebut, Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek permintaan minyak global.
Ia mengatakan OPEC belum menemukan indikasi bahwa permintaan minyak akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Selain itu, Al Ghais juga menolak proyeksi International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan pasar akan menghadapi surplus pasokan pada masa mendatang.
Menurut Al Ghais, OPEC lebih mengandalkan data aktual dan kondisi fundamental pasar dibandingkan berbagai kemungkinan yang masih bersifat spekulatif. Dengan demikian, organisasi tersebut tetap mempertahankan pandangan positif terhadap kebutuhan energi dunia.
Investor Tetap Bersikap Waspada
Sementara itu, analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai sejumlah perkembangan positif sempat meredakan kekhawatiran pasar. Pembukaan kembali Selat Hormuz secara terbatas, Kuwait mencabut status force majeure, dan Amerika Serikat mengakhiri blokade angkatan laut sehingga investor kembali menunjukkan optimisme.
Kendati demikian, Varga mengingatkan bahwa pasar masih rentan terhadap perubahan sentimen. Ia menilai gencatan senjata selama 60 hari memang membawa perkembangan positif, tetapi belum mampu menjamin stabilitas dalam jangka panjang.
Sejalan dengan itu, analis Axi, Tiago Lacerda, memperkirakan harga minyak akan bergerak di kisaran 75 hingga 82 dolar AS per barel dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Lacerda menjelaskan bahwa pasar kini memusatkan perhatian pada proses normalisasi jalur perdagangan dan distribusi energi. Menurutnya, sejumlah perusahaan pelayaran besar masih menunda operasional mereka, sedangkan perusahaan asuransi tetap mematok premi tinggi untuk rute di kawasan tersebut.
Oleh sebab itu, pelaku pasar masih bersikap hati-hati dan belum sepenuhnya percaya bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah telah mereda.
Pada akhirnya, investor global terus memantau setiap perkembangan hubungan antara Washington dan Teheran. Karena itu, pergerakan harga minyak dalam waktu dekat sangat bergantung pada arah negosiasi dan kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Perbaikan ini biasanya menurunkan persentase kalimat pasif hingga di bawah batas rekomendasi serta memperbaiki skor “Sebaran Subjudul” karena artikel sudah memiliki empat subjudul yang relevan.
(eny)









