Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Ketegangan Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Sentimen Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kapal tanker melintasi Selat Hormuz di tengah ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kapal tanker melintasi Selat Hormuz di tengah ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Jakarta, iNBrita.com – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026 (Sabtu pagi waktu Jakarta). Investor mendorong kenaikan ini karena mereka menunggu kepastian kesepakatan dari pemerintahan Trump terkait pembukaan Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Sabtu (8/8/2026), harga minyak Brent naik lebih dari 1% menjadi US$ 83,55 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga naik 1% ke level US$ 78,18 per barel. Meski begitu, dalam sepekan terakhir harga minyak masih turun lebih dari 7%.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengatakan kepada CNBC bahwa pemerintah menargetkan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat. Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menyampaikan sinyal bahwa kesepakatan tersebut segera diumumkan.

Namun hingga kini, pemerintah belum mengumumkan kesepakatan resmi. Di sisi lain, pelaku pasar mencatat penurunan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Perusahaan intelijen perdagangan Kpler melaporkan lalu lintas kapal turun sekitar 33% pada Jumat dibandingkan hari sebelumnya. Sebagian besar kapal memilih melintasi jalur Iran.

Iran dan Oman terus bernegosiasi untuk menentukan rute transit di Selat Hormuz. Media melaporkan bahwa kapal yang masuk akan melintasi perairan Iran, sedangkan kapal keluar akan melalui perairan Oman.

Sementara itu, media pemerintah Iran, Fars, merilis rancangan kebijakan yang berpotensi membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut. Parlemen Iran kini meninjau rancangan tersebut.

Dalam rancangan itu, Iran berencana melarang kapal asal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz. Iran juga akan membatasi akses bagi negara lain yang dianggap merugikan hingga negara tersebut membayar kompensasi.

Harga Minyak Menguat Dipicu Ketegangan Hormuz

Pada Kamis, 6 Agustus 2026, harga minyak dunia juga menguat. Pelaku pasar merespons rencana pembatasan lalu lintas kapal yang dirilis media pemerintah Iran.

Harga minyak Brent naik 3,8% dan ditutup di level US$ 82,49 per barel. Harga minyak WTI menguat 2,8% menjadi US$ 77,29 per barel.

Sebelumnya, harga minyak sempat turun sekitar 8% dalam sepekan. Penurunan itu terjadi setelah Scott Bessent menyatakan bahwa kesepakatan pembukaan Selat Hormuz bisa tercapai dalam waktu dekat.

Hingga kini, Iran dan Oman masih menyusun kesepakatan jalur transit. Mereka merancang skema yang mengarahkan kapal masuk melalui perairan Iran dan kapal keluar melalui perairan Oman.

Namun, pemerintah Iran menyiapkan aturan yang lebih ketat. Iran berencana memberlakukan pembatasan tambahan bagi kapal yang melintas di selat tersebut.

Selain melarang kapal AS dan Israel, Iran juga mempertimbangkan sanksi berupa denda. Iran menetapkan denda hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar.

Sentimen Lain Dorong Harga Minyak

Selain isu Selat Hormuz, pelaku pasar juga mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang konsentrasi pasukan Arab Saudi.

Kelompok itu juga menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, tepatnya di dekat terminal ekspor Yanbu. Terminal tersebut berperan penting dalam jalur distribusi minyak alternatif.

Di sisi lain, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan insiden di sekitar Selat Hormuz. Sebuah kapal tanker mendengar dua ledakan saat melintas di perairan Oman. UKMTO memastikan kapal dan awak tetap dalam kondisi aman.

(VVR*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MSCI Ubah Status Indonesia, Dana Asing Terancam Keluar
Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp 2,57 Juta
IHSG Anjlok 11,57%, Investor Bidik Saham Dividen Tinggi
Harga Emas Pegadaian Hari Ini: Galeri24, Antam, UBS
IHSG Anjlok 11,57%, MSCI Evaluasi Status Pasar Indonesia
Harga Emas Antam Naik, Emas Dunia Tertekan
Saham BMRI Anjlok 8,54%, IHSG Ambruk 10,76%
BEI Tanggapi MSCI, Investor Cermati Perubahan Status Pasar
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 12:00 WIB

MSCI Ubah Status Indonesia, Dana Asing Terancam Keluar

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp 2,57 Juta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:00 WIB

IHSG Anjlok 11,57%, Investor Bidik Saham Dividen Tinggi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini: Galeri24, Antam, UBS

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:00 WIB

IHSG Anjlok 11,57%, MSCI Evaluasi Status Pasar Indonesia

Berita Terbaru

BYD Racco, mobil listrik mungil asal Jepang, mulai dipasarkan di Sri Lanka dengan harga mencapai Rp 625 juta.(Foto: BYD)

Teknologi

BYD Racco Dijual di Sri Lanka, Harga Tembus Rp 625 Juta

Minggu, 18 Okt 2026 - 13:00 WIB

MSCI berpotensi mengubah status pasar saham Indonesia dan memicu arus keluar dana asing hingga Rp 132 triliun.(Foto : YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Ekonomi

MSCI Ubah Status Indonesia, Dana Asing Terancam Keluar

Minggu, 18 Okt 2026 - 12:00 WIB

BMKG memprediksi hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, 18 Oktober 2026.(Foto : Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Nasional

BMKG Prediksi Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Indonesia

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:00 WIB

Harga emas Antam pada Minggu, 18 Oktober 2026, bertahan di Rp 2.572.000 per gram.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp 2,57 Juta

Minggu, 18 Okt 2026 - 10:00 WIB

Singapura menyoroti tujuh perusahaan Indonesia terkait karhutla dan kabut asap lintas batas, sementara DPR mendesak pemerintah membuka data 52 perusahaan yang diduga terkait kebakaran hutan.(Foto : tribunnews.com/HO)

Nasional

Singapura Peringatkan 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla

Minggu, 18 Okt 2026 - 03:00 WIB