Sungai Penuh , iNBrita.com — Di sebuah sudut sederhana di Sungai Ning, Kota Sungai Penuh, Mbah Vano menjalani hari-harinya dengan tenang namun penuh makna. Setiap pagi, ia duduk di depan rumahnya dan langsung memulai aktivitasnya. Dengan tangan yang masih cekatan, ia meracik bahan-bahan jamu. Sosok ini telah menjalankan usaha jamu tradisional selama hampir 25 tahun dengan penuh ketekunan.
Memilih Jalan Hidup sebagai Peracik Jamu
Sejak awal, Mbah Vano memilih jalan hidup yang ia yakini. Karena itu, ia setiap hari menyiapkan bahan-bahan alami seperti kunir, sereh, jahe, dan berbagai rempah lainnya. Ia mengolah semua bahan itu menggunakan resep warisan nenek moyang yang ia jaga turun-temurun. Dari proses tersebut, ia menghasilkan puluhan botol jamu yang kemudian ia jual untuk membantu kebutuhan rumah tangga.
“Alhamdulillah, saya bisa menambah biaya rumah tangga,” ujarnya sambil tersenyum, menunjukkan rasa syukur dalam kesehariannya.
Ketekunan yang Tidak Pernah Pudar
Namun demikian, Mbah Vano tetap menunjukkan keteguhan yang luar biasa dalam menjalani usahanya. Ia tetap menjalankan produksi jamu setiap hari dan tidak mudah menyerah ketika penjualan menurun. Sebaliknya, ia terus berusaha dan menjaga konsistensi kerja. Karena itu, ia memaknai pekerjaannya bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan rasa syukur.
Keseimbangan antara Kerja dan Keluarga
Di sisi lain, Mbah Vano juga mengatur waktu dengan bijak. Ia berhenti bekerja ketika tubuhnya merasa lelah dan memilih beristirahat di rumah. Selain itu, ia juga meluangkan waktu untuk menemani cucunya, karena anak-anaknya sudah bekerja. Dengan demikian, ia tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.
Rahasia Jamu yang Selalu Disukai
Mbah Vano juga memegang prinsip sederhana dalam meracik jamu. Ia selalu memilih bahan yang masih segar dan menghindari penggunaan pengawet. Ia percaya bahwa kualitas jamu sangat bergantung pada bahan yang digunakan dan ketulusan dalam proses pembuatannya.
“Yang penting saya pakai bahan segar dan tidak menggunakan pengawet,” katanya dengan penuh keyakinan.
Hidup Sederhana Tanpa Banyak Tuntutan
Selain itu, Mbah Vano tetap fokus pada aktivitasnya sehari-hari tanpa terlalu memperhatikan hal-hal di luar pekerjaannya. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa setiap 27 Mei diperingati sebagai Hari Jamu Nasional. Namun demikian, ia tetap menjalankan pekerjaannya dengan konsisten. Baginya, setiap hari adalah kesempatan untuk meracik jamu, bekerja, dan bersyukur.
Pelajaran Hidup dari Mbah Vano
Pada akhirnya, kisah Mbah Vano memberikan pelajaran berharga tentang ketekunan dan kesederhanaan. Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat menjalani hidup dengan bermakna tanpa harus memiliki kemewahan. Karena itu, ia terus bekerja dengan hati yang ikhlas dan penuh kesabaran.
Warisan Ketulusan yang Terus Hidup
Dengan demikian, Mbah Vano tidak hanya meracik jamu, tetapi juga membangun nilai kehidupan melalui kerja keras, ketulusan, dan konsistensi yang ia jalankan setiap hari.









