Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dari faktor global dan domestik. Dalam jangka pendek, rupiah masih bertahan meski menghadapi sejumlah sentimen negatif.
Tekanan global terutama datang dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Juli 2023.
Imbal Hasil AS Tekan Rupiah
Pengamat pasar komoditas sekaligus Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menekan rupiah.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun kini menyentuh kisaran 5 persen. Kondisi tersebut membuat aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi relatif kurang menarik bagi investor.
Pada saat yang sama, indeks dollar AS (DXY) berada di level tertinggi dalam sebulan.
“Selisih imbal hasil yang menyempit membuat aset emerging market, termasuk Indonesia, kehilangan daya tarik relatif,” kata Sutopo kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2026).
Kondisi Ekonomi Domestik Masih Lemah
Dari dalam negeri, rupiah juga belum mendapat banyak dukungan. Aktivitas manufaktur masih lemah. Konsumsi rumah tangga juga belum kuat. Selain itu, pertumbuhan penjualan ritel mulai melambat.
Kondisi tersebut membuat Indonesia sulit mengandalkan arus masuk dana asing sebagai penopang rupiah.
“Sehingga arus masuk portofolio sulit diandalkan sebagai bantalan,” ujar Sutopo.
Harga minyak yang masih berada di atas 100 dollar AS per barel juga menambah tekanan. Kenaikan harga minyak dapat memperbesar kebutuhan impor migas Indonesia.
Dengan berbagai faktor tersebut, tekanan terhadap rupiah masih terlihat dalam jangka pendek.
Namun, Sutopo menilai pasar sudah banyak mengantisipasi kenaikan suku bunga AS. Karena itu, pasar kini akan memperhatikan sinyal kebijakan The Fed berikutnya.
Pasar Menunggu Sinyal The Fed
Menurut Sutopo, pasar tidak hanya akan melihat keputusan suku bunga The Fed. Investor juga akan mencermati dot plot dan pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Jika proyeksi The Fed menunjukkan kebijakan yang lebih lunak dari perkiraan pasar, dollar AS berpotensi melemah. Kondisi tersebut dapat memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.
Saat ini, pasar memperhitungkan sekitar 56 basis poin (bps) pengetatan dalam tiga pertemuan The Fed berikutnya.
“Perlu dikonfirmasi pula bahwa level 17.700 yang disebut masih di sisi lemah tetapi belum menembus titik terendah,” ungkap Sutopo.
Kurs pasar pada pekan ini berada di sekitar level 17.630. Posisi tersebut masih berada di bawah rata-rata 50 hari yang mencapai 17.821.
Dalam setahun terakhir, rupiah bergerak dalam rentang 16.370 hingga 18.180 per dollar AS.
Empat Faktor Menentukan Rupiah
Untuk jangka menengah, Sutopo melihat sedikitnya empat faktor yang akan menentukan arah rupiah.
Pertama, pasar akan memperhatikan durasi dan besaran siklus pengetatan The Fed. Jika inflasi AS terus mendapat tekanan dari kenaikan harga energi akibat konflik dengan Iran, dollar AS berpotensi tetap mendapat dukungan.
Kedua, investor akan mencermati perkembangan harga minyak mentah. Harga minyak memberikan dampak ganda terhadap rupiah.
Kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit transaksi berjalan. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan beban anggaran subsidi energi.
Ketiga, arah rupiah akan bergantung pada kebijakan Bank Indonesia (BI). BI akan menggelar rapat pada pekan depan setelah mempertahankan suku bunga selama dua bulan berturut-turut.
Sutopo menilai BI menghadapi dilema dalam menentukan kebijakan. BI perlu menjaga stabilitas rupiah dengan kebijakan yang lebih ketat. Namun, kondisi permintaan domestik yang lemah membutuhkan kebijakan yang lebih longgar.
Karena itu, BI kemungkinan akan mengandalkan kombinasi kebijakan. Langkah tersebut dapat mencakup intervensi pasar secara terukur, instrumen penarik devisa, serta pendalaman pasar valuta asing.
Investor Pantau Kebijakan Fiskal
Faktor keempat berkaitan dengan kredibilitas kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara.
Investor asing akan memperhatikan disiplin anggaran, kualitas pembiayaan utang, dan konsistensi komunikasi pemerintah.
“Karena di tengah imbal hasil global yang tinggi, premi risiko negara yang menentukan apakah modal bertahan atau pergi,” tutup Sutopo.
Rupiah Melemah pada Perdagangan 16 September
Sebagai informasi, rupiah melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.696 per dollar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 2 poin atau 0,01 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Pada Selasa (15/9/2026), rupiah berada di level Rp17.694 per dollar AS.
Sementara itu, indeks dollar AS atau DXY melemah 0,05 persen ke level 99,564 pada pukul 15.00 WIB.
DXY sempat menguat pada awal perdagangan. Pada pukul 09.00 WIB, indeks tersebut naik 0,12 persen ke level 99,730.
Namun, DXY kemudian berbalik melemah hingga penutupan perdagangan.
(VVR*)









