Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin, 14 September 2026. Tekanan terhadap rupiah muncul ketika pasar keuangan global mencermati perkembangan inflasi AS dan menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Rupiah ditutup pada level Rp17.669 per dolar AS. Angka tersebut melemah 58 poin atau sekitar 0,33 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp17.611 per dolar AS.
Pelemahan rupiah juga terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada perdagangan Senin, JISDOR berada di level Rp17.635 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah dibandingkan perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp17.611 per dolar AS. Kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah perhatian investor terhadap perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Inflasi AS Tekan Pergerakan Rupiah
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai perkembangan inflasi AS ikut memengaruhi pergerakan rupiah.
Ibrahim mengatakan data inflasi Amerika Serikat pada Agustus menjadi perhatian utama pelaku pasar. Data tersebut menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen inti sebesar 0,3 persen secara bulanan.
Angka tersebut tidak memasukkan komponen pangan dan energi. Sementara itu, indeks harga konsumen atau CPI AS secara tahunan mencatat kenaikan sebesar 3,4 persen.
Pasar juga mencermati inflasi inti AS yang mencapai 2,4 persen secara tahunan. Data tersebut memberikan gambaran mengenai tekanan harga di Amerika Serikat.
Pelaku pasar kemudian menggunakan data inflasi tersebut untuk memperkirakan langkah The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Perkembangan inflasi AS membuat investor semakin fokus pada pertemuan The Fed yang berlangsung pada pekan ini. Pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan mengambil kebijakan suku bunga yang dapat memengaruhi pergerakan dolar.
Ibrahim menyebut pasar memperhitungkan peluang sekitar 88 persen untuk kenaikan suku bunga pada September.
Perkiraan tersebut turut memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara berkembang. Ketika pasar melihat peluang suku bunga AS tetap tinggi, dolar berpotensi menguat. Kondisi itu kemudian dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Trump Kembali Soroti Kebijakan The Fed
Selain data ekonomi, pasar juga memperhatikan perkembangan politik di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump kembali meminta The Fed menurunkan suku bunga pada Minggu, 13 September 2026.
Trump melanjutkan kritik terhadap kebijakan bank sentral AS tersebut. Pernyataan itu menambah perhatian pasar terhadap independensi dan arah kebijakan The Fed.
Investor kini menunggu keputusan resmi The Fed untuk melihat arah kebijakan moneter Amerika Serikat selanjutnya.
Rupiah Masih Hadapi Tekanan Global
Pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih bergantung pada sejumlah faktor global. Data inflasi AS, keputusan The Fed, dan pergerakan dolar akan menjadi perhatian utama investor.
Jika The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat, dolar AS berpotensi tetap kuat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dapat mengubah arah pergerakan dolar dan rupiah.
Investor karena itu perlu mencermati setiap perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Pasar juga akan terus mengikuti kebijakan bank sentral AS sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.
Dengan kondisi tersebut, rupiah masih menghadapi tekanan pada perdagangan berikutnya. Pergerakan mata uang nasional akan sangat bergantung pada keputusan The Fed serta perubahan sentimen di pasar keuangan global.
(VVR*)









