Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah turun 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp18.033 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp18.022 per dolar AS.
Pelaku pasar mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen. Selain itu, sentimen pasar keuangan global turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai keputusan BI menahan suku bunga acuan turut menekan rupiah pada perdagangan hari ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI yang menahan suku bunga acuan tetap di 5,75 persen,” ujar Rully seperti dikutip Antara.
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan
BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dalam keputusan terbarunya. Namun, bank sentral menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Sementara itu, BI tetap mempertahankan suku bunga lending facility di level 6,5 persen.
Selain mengatur suku bunga, BI menurunkan giro wajib minimum (GWM) rata-rata perbankan sebesar 2 persen. Kebijakan ini bertujuan memperkuat likuiditas rupiah di sektor perbankan.
BI menurunkan GWM bank umum konvensional dari 9 persen menjadi 7 persen. Pada saat yang sama, BI memangkas GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.
Arus Modal Asing Tekan Sentimen Pasar
Selain kebijakan moneter, pelaku pasar juga memantau perkembangan pasar modal Indonesia. BI terus mencermati risiko arus keluar modal asing atau capital outflow dari pasar saham domestik.
Perhatian tersebut meningkat setelah MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Perubahan itu berpotensi memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dananya di pasar domestik.
Jika investor asing menarik dana dalam jumlah besar, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia dapat meningkat. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
Karena itu, pelaku pasar terus memantau sentimen investor terhadap aset keuangan Indonesia. Mereka juga mempertimbangkan perkembangan ekonomi global saat menentukan strategi investasi.
Permintaan Obligasi AS Jadi Perhatian
Dari pasar global, Rully melihat peluang peningkatan permintaan terhadap obligasi pemerintah Indonesia. Peluang tersebut muncul seiring meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Kenaikan permintaan obligasi AS mendorong penurunan imbal hasil atau yield menjadi 5,1 persen. Perubahan imbal hasil ini menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor saat menentukan alokasi dana di pasar global.
Investor biasanya membandingkan imbal hasil dan risiko investasi sebelum menempatkan modalnya di negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, pergerakan yield obligasi AS dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.
Rupiah Berpotensi Bergerak di Rp18.000–Rp18.120
Dengan mempertimbangkan faktor domestik dan global, Rully memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.120 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis (22/10/2026).
Pelaku pasar akan terus mencermati arah kebijakan BI, perkembangan pasar modal domestik, serta pergerakan imbal hasil obligasi AS. Ketiga faktor tersebut dapat memengaruhi sentimen investor dan menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya.
(vvr*)









