Jakarta, iNBrita.com — Bareskrim Polri mengungkap praktik produksi ilegal vitamin sirup di Lampung pada awal Oktober 2026. Pelaku diduga memasarkan vitamin anak palsu melalui platform online dengan harga sekitar Rp50.000.
Kasus ini mengingatkan masyarakat agar lebih cermat saat membeli produk kesehatan, terutama vitamin untuk anak. Konsumen perlu memastikan keaslian produk sebelum menggunakannya agar terhindar dari risiko kesehatan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Sulpiana, MBiomed, mengingatkan masyarakat tentang bahaya produk kesehatan palsu. Produk tersebut dapat mengandung bahan aktif yang tidak sesuai dengan label, tidak mengandung bahan aktif sama sekali, atau bahkan mengandung zat berbahaya.
Sulpiana menjelaskan bahwa konsumsi vitamin palsu tidak selalu langsung menimbulkan gejala. Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap produk tersebut aman hanya karena tubuh tidak menunjukkan reaksi tertentu.
“Tidak munculnya keluhan bukan berarti produk tersebut aman,” tegasnya.
Dampak konsumsi vitamin palsu bergantung pada kandungan produk, jumlah dan frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan setiap orang.
Langkah yang Harus Dilakukan Jika Telanjur Mengonsumsi
Sulpiana meminta masyarakat segera menghentikan konsumsi yang mereka curigai palsu. Konsumen tidak perlu menunggu munculnya gejala untuk mengambil tindakan. Mereka juga tidak boleh menghabiskan produk hanya karena masih tersisa atau sudah mengeluarkan uang untuk membelinya.
Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan jika seseorang telanjur mengonsumsi vitamin yang diduga palsu.
1. Segera hentikan konsumsi vitamin
Jangan mengonsumsi kembali vitamin yang diduga palsu sebelum tenaga kesehatan memastikan keamanannya. Hindari pula memberikan produk tersebut kepada anggota keluarga lain, terutama anak-anak.
2. Simpan kemasan dan bukti pembelian
Simpan kemasan asli, nomor bets, label produk, serta bukti transaksi pembelian. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan dan pihak berwenang menelusuri produk yang telah dikonsumsi.
3. Catat jumlah konsumsi dan gejala yang muncul
Catat waktu konsumsi, jumlah vitamin yang diminum, serta perubahan kondisi tubuh setelah mengonsumsinya. Perhatikan gejala seperti mual, muntah, diare, ruam, gatal, pusing, dan tubuh lemas.
Jangan mengabaikan risiko hanya karena tubuh belum menunjukkan gejala. Produk yang mengandung bahan berbahaya tetap berpotensi menimbulkan masalah kesehatan meskipun konsumen belum merasakan keluhan.
4. Konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan
Segera hubungi dokter atau tenaga kesehatan meskipun belum mengalami keluhan. Tenaga kesehatan akan menilai kondisi konsumen dan menentukan apakah mereka memerlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
Jika seseorang mengalami sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, kejang, penurunan kesadaran, atau nyeri perut hebat, segera bawa orang tersebut ke fasilitas medis darurat.
“Jangan menunggu sampai gejala memburuk untuk mencari pertolongan,” tegas Sulpiana.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan muntah atau melakukan detoksifikasi sendiri tanpa arahan tenaga kesehatan. Tindakan tersebut belum tentu membantu dan justru dapat memperburuk kondisi.
Cara Mencegah Pembelian Vitamin Palsu
Masyarakat dapat mengurangi risiko dengan memilih penjual yang tepercaya saat membeli vitamin secara online. Jangan hanya mempertimbangkan harga murah tanpa memeriksa keaslian produk.
Periksa kondisi kemasan, nama produsen, nomor izin edar, nomor bets, dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli atau mengonsumsi vitamin. Konsumen juga dapat mengecek nomor izin edar melalui kanal resmi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Jika menemukan produk dengan kemasan mencurigakan atau informasi yang tidak jelas, jangan mengonsumsinya. Masyarakat dapat melaporkan dugaan pemalsuan melalui saluran pengaduan resmi agar pihak berwenang dapat menindaklanjutinya.
Kewaspadaan saat membeli produk kesehatan membantu masyarakat melindungi diri dan keluarga dari risiko vitamin palsu. Khusus bagi anak-anak, orang tua perlu memilih produk yang terjamin keamanan dan mutunya serta memberikan vitamin sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.
(eny)









