Jakarta, iNBrita.com – Harga emas dunia menguat pada Senin, 26 Oktober 2026. Kenaikan ini terjadi setelah harga emas menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga bulan pada sesi sebelumnya. Selain itu, penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan ini.
Mengutip CNBC pada Selasa (27/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi US$ 4.020,60 per ons pada pukul 14.09 EDT. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 3.975 per ons pada Jumat. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 20 Juli 2026.
Penguatan harga emas dunia hari ini juga menarik perhatian investor yang menantikan keputusan suku bunga The Fed. Kebijakan bank sentral AS tersebut dapat memengaruhi pergerakan emas, nilai tukar dolar AS, dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Analis StoneX, Bob Haberkorn, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak mentah turut mendukung kenaikan harga emas. Selain itu, investor memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk kembali membeli emas.
“Menurut saya, aktivitas perdagangan akan cenderung sepi, dan harga kemungkinan akan bertahan di kisaran US$ 4.000 hingga pengumuman dari The Fed keluar,” ujar Haberkorn.
Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mereda
Harga minyak turun setelah melonjak pada pekan sebelumnya. Meski demikian, harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan. Pasar merespons harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, investor tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan baru. Gangguan tersebut dapat kembali mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi.
Di sisi lain, pasar menantikan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu. Pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga setelah menaikkannya pada September. Meski demikian, perangkat FedWatch milik CME menunjukkan bahwa pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 80%.
Kenaikan suku bunga biasanya menekan harga emas. Pasalnya, investor harus menanggung biaya peluang yang lebih besar saat memegang emas, karena aset ini tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Investor Menanti Data Inflasi dan Pemilu AS
Para pejabat The Fed telah memberikan sinyal bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunga jangka pendek AS pada pekan ini. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi masih membayangi pasar. Karena itu, investor menilai The Fed mungkin tidak akan mempertahankan jeda kenaikan suku bunga dalam waktu lama.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis pada Kamis. The Fed menggunakan indikator inflasi ini sebagai salah satu acuan utama dalam menentukan kebijakan moneternya.
Data PCE dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai arah suku bunga AS. Jika inflasi masih tinggi, pasar mungkin memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Investor juga mencermati pemilihan umum paruh waktu AS pada 3 November. Mereka menilai dampak hasil pemilu terhadap kebijakan fiskal dan sentimen pasar keuangan.
Dalam catatannya, para analis OCBC menjelaskan bahwa investor tidak hanya memperhatikan hasil pemilu. Mereka juga mencermati dampaknya terhadap kebijakan fiskal, tarif, belanja geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan.
Menurut para analis OCBC, berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), nilai tukar dolar AS, dan harga emas.
Harga Perak Menguat, Platinum Melemah
Pergerakan harga logam mulia lainnya menunjukkan tren yang beragam. Harga perak di pasar spot naik 0,2% menjadi US$ 54,01 per ons. Sebaliknya, harga platinum turun 1,2% menjadi US$ 1.532,55 per ons.
Harga platinum bahkan sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Sementara itu, harga paladium naik 0,5% menjadi US$ 1.048,70 per ons.
Di tengah pergerakan tersebut, Nornickel, perusahaan asal Rusia yang menjadi produsen paladium terbesar di dunia sekaligus produsen utama nikel olahan, menyampaikan rencana perombakan besar-besaran pada tanur peleburan.
Perusahaan tersebut memperingatkan bahwa pekerjaan perombakan itu berpotensi mengurangi produksi logam utamanya pada 2027–2028. Jika rencana tersebut mengganggu pasokan, pasar logam dapat kembali menghadapi tekanan dari sisi produksi.
(vvr*)









