Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (27/10/2026). Sejumlah faktor global dan domestik masih menekan pergerakan mata uang Indonesia tersebut.
Mengutip Antara, rupiah dibuka pada level Rp18.140 per dolar AS. Posisi ini melemah 5 poin atau 0,03% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS.
Analis menilai, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan rupiah. Selain itu, pasar juga mencermati potensi perubahan kebijakan luar negeri dan militer Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Ketegangan Geopolitik Tekan Pergerakan Rupiah
Sejumlah pejabat AS meyakini Presiden Donald Trump dapat mengeluarkan perintah operasi militer kapan saja sebelum akhir 2026. Mereka memperkirakan keputusan tersebut kemungkinan muncul setelah pemilihan umum paruh waktu AS.
Rencana operasi militer itu juga berpotensi melampaui strategi terbatas untuk mempertahankan status quo. AS dapat memperluas cakupan operasinya dengan menargetkan radar, peluncur, dan aset militer Iran lainnya.
Langkah tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini dapat mendorong investor mengambil posisi lebih hati-hati di pasar keuangan global.
Arus Keluar Dana Asing Bebani Rupiah
Dari dalam negeri, arus keluar modal asing di pasar saham turut menekan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menjual saham domestik dan mengalihkan dananya ke luar negeri, permintaan terhadap valuta asing dapat meningkat.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rupiah, terutama ketika pasar global menghadapi ketidakpastian. Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Rupiah Melemah ke Rp18.135 pada Penutupan Perdagangan
Sebelumnya, rupiah juga mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026). Mengutip Antara, rupiah turun 55 poin atau 0,30% ke level Rp18.135 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.080 per dolar AS.
Bank Indonesia juga mencatat pelemahan melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pada Senin, JISDOR berada di level Rp18.116 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp18.069 per dolar AS.
Ekonom Bank Danamon, Faiz Irman, menjelaskan bahwa tekanan global dan risiko domestik secara bersamaan memengaruhi pergerakan rupiah.
Menurut Faiz, harga minyak yang masih tinggi meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi. Kenaikan harga minyak juga mempertahankan risiko inflasi global dan berpotensi membuat suku bunga AS bertahan pada level tinggi lebih lama.
Selain itu, investor cenderung mengambil sikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini.
Faiz juga menyoroti pergerakan indeks dolar AS atau DXY yang berada di sekitar level 101,8. Menurutnya, posisi tersebut menunjukkan bahwa dolar AS masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian pasar.
“DXY index berada sekitar 101,8, masih menunjukkan resiliensi sementara ketidakpastian MSCI menambah risiko penjualan saham asing dan repatriasi dana,” ujar Faiz saat dihubungi Liputan6.com.
Ia turut menjelaskan bahwa penyempitan surplus perdagangan mengurangi pasokan devisa yang dapat menopang rupiah. Akibatnya, perubahan arus modal dapat memberikan dampak lebih besar terhadap nilai tukar.
Investor Perlu Mencermati Risiko Pelemahan Rupiah
Faiz menilai pelemahan rupiah mencerminkan perubahan kondisi eksternal sekaligus peningkatan premi risiko Indonesia. Dalam situasi tersebut, investor membutuhkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk mempertahankan kepemilikan aset dalam rupiah.
Pasar dapat menyesuaikan risiko tersebut melalui kenaikan imbal hasil aset atau pelemahan nilai tukar. Meski demikian, Faiz mengingatkan bahwa penjelasan ekonomi tersebut tidak berarti pasar boleh mengabaikan tekanan yang sedang berlangsung.
Ia meminta pelaku pasar mencermati tiga indikator utama, yaitu kecepatan pelemahan rupiah, likuiditas pasar valuta asing, dan keberlanjutan arus keluar modal.
Selain itu, pelaku pasar perlu memperhatikan potensi dampak ketidakpastian MSCI terhadap investasi asing di pasar saham Indonesia.
Faiz menjelaskan bahwa skenario MSCI yang dihitung pihaknya menunjukkan potensi penjualan saham oleh investor asing sebesar US$2,9 miliar hingga US$5,8 miliar.
Namun, angka tersebut merupakan proyeksi bersyarat apabila penghapusan saham dari indeks benar-benar terjadi. Proyeksi itu juga mencakup kemungkinan penyesuaian portofolio investor aktif, sehingga tidak mencerminkan jumlah dana yang pasti keluar dari Indonesia saat ini.
Dengan demikian, pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada perkembangan sentimen global, kebijakan suku bunga AS, kondisi geopolitik, serta arus modal asing di pasar domestik.
(vvr*)









