Kerinci, iNBrita.com – Ribuan warga memadati aliran Sungai Batang Merao, Semurup, Kabupaten Kerinci, Sabtu (7/11/2026). Mereka mengikuti sekaligus menyaksikan prosesi adat Mandi Balimau yang menjadi bagian dari rangkaian Kenduri Sko masyarakat Tigo Luhah Semurup.
Masyarakat mempertahankan tradisi turun-temurun ini sebagai warisan leluhur yang mengandung nilai kebersamaan, persaudaraan, dan penyucian diri.
Sehari sebelum pelaksanaan, masyarakat bergotong royong membangun dua panggung bambu di aliran Sungai Batang Merao. Mereka menyusun kedua panggung tersebut secara berjejer sebagai tempat para pemangku adat melaksanakan prosesi Mandi Balimau.
Saat prosesi berlangsung, sejumlah tokoh adat mengenakan pakaian kebesaran dan berdiri di atas kedua panggung yang telah dihias. Mereka membawa ember berisi air racikan limau atau jeruk untuk membasuh warga yang mengikuti ritual tersebut.
Salah seorang pemangku adat juga memegang sebilah pedang dan menggerakkannya sebagai isyarat selama prosesi berlangsung.
Ratusan warga kemudian mengikuti prosesi secara bergantian dengan melewati dua panggung bambu tersebut. Para pemangku adat menyiram setiap warga menggunakan air limau sebagai bagian dari ritual penyucian diri.
Setelah menerima siraman air limau, warga menyeberangi sungai dan berkumpul kembali di seberang aliran sungai. Panitia telah menyiapkan tenda di lokasi tersebut untuk menampung masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan.
Suasana sakral turut mewarnai pelaksanaan tradisi ini. Sejumlah warga mengalami kesurupan saat mengikuti prosesi. Para tetua adat kemudian menangani mereka dengan menggunakan api dan kemenyan.
Mandi Balimau Mengandung Makna Penyucian Zahir dan Batin
Tokoh adat setempat, Safwandi, S.AP., DPT, menjelaskan bahwa masyarakat Tigo Luhah Semurup telah menjalankan tradisi Mandi Balimau sejak ratusan tahun silam.
Menurutnya, masyarakat tidak sekadar melaksanakan ritual mandi menggunakan air limau atau jeruk. Mereka juga mewarisi nilai filosofis dan pesan moral tentang pentingnya membersihkan diri, baik secara zahir maupun batin.
“Dalam pelaksanaannya, Mandi Balimau dilakukan secara bersama-sama, khususnya pada rangkaian acara Kenduri Sko,” ungkap Safwandi.
Ia mengatakan, tradisi tersebut menjadi momentum bagi masyarakat Tigo Luhah Semurup untuk memahami kembali hakikat kebersihan diri sekaligus mempererat hubungan persaudaraan antarsesama keturunan.
Safwandi menjelaskan bahwa air limau atau jeruk membantu masyarakat membersihkan dan menyucikan diri secara zahir. Namun, masyarakat juga harus membersihkan batin dengan menghilangkan berbagai sifat tercela.
Sifat-sifat tersebut meliputi iri hati, dengki, khianat, takabur, dan kesombongan.
“Itulah hakikat dan esensi daripada Mandi Balimau. Dengan demikian, Mandi Balimau tidak semestinya dipahami hanya sebatas kegiatan membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga menjadi pengingat bagi setiap individu untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia,” jelasnya.
Satu Keturunan, Satu Leluhur
Safwandi juga menguraikan makna nama Semurup yang menggambarkan kesatuan asal-usul keturunan, yakni satu Ninek atau satu leluhur.
Seiring berjalannya waktu, keturunan tersebut terus berkembang sehingga jumlah anak cucu semakin banyak. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pandangan dan berbagai persoalan terkadang menimbulkan perselisihan di antara sesama keturunan.
Melalui Kenduri Sko dan prosesi Mandi Balimau, Safwandi mengajak masyarakat Tigo Luhah Semurup untuk kembali menyucikan diri, baik secara zahir maupun batin.
“Oleh karena itu, melalui momentum Kenduri Sko dan pelaksanaan Mandi Balimau secara bersama-sama, khususnya masyarakat Tigo Luhah Semurup, diharapkan dapat kembali mensucikan zahir dan bathin,” katanya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya perlu melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga harus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Setiap warga perlu membersihkan hati, menghilangkan prasangka buruk, memperbaiki hubungan yang renggang, serta menjaga persatuan dan persaudaraan.
Safwandi mengingatkan bahwa masyarakat dapat kehilangan makna sebuah tradisi apabila hanya menjalankan prosesi secara seremonial tanpa memahami pesan moral di baliknya.
“Jika dalam Mandi Balimau kita tidak memahami hakikatnya, maka sia-sialah tradisi adat itu dijalankan. Bahkan, tradisi yang seharusnya menjadi sarana pembinaan diri dan pemersatu masyarakat dapat kehilangan makna sejatinya,” ungkapnya.
Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah
Safwandi menjelaskan bahwa masyarakat Tigo Luhah Semurup selalu menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam menjalankan adat istiadat.
Masyarakat memegang teguh falsafah:
“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, ico pakai bersendi kepado sunnah Nabi.”
Mereka juga mengenal ungkapan:
“Syarak mungato, adat memakai.”
Falsafah tersebut mengajarkan bahwa masyarakat harus menjalankan adat sejalan dengan tuntunan syariat Islam. Adat tidak hanya menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi pedoman kehidupan sosial yang berlandaskan nilai-nilai agama.
“Benar kato dalam adat, sah kato dalam syarak, betul kato dalam ico pakai,” tuturnya.
Safwandi menambahkan bahwa tradisi Mandi Balimau dalam rangkaian Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup mengajarkan masyarakat tentang pentingnya membersihkan diri secara menyeluruh.
Masyarakat membersihkan zahir menggunakan air limau, sedangkan mereka menyucikan batin melalui introspeksi dan perbaikan diri atau islah diri.
Ia menegaskan bahwa kemuliaan sebuah tradisi tidak hanya terlihat dari kemeriahan pelaksanaannya. Masyarakat juga harus memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Mandi Balimau bukan sekadar membersihkan zahir dengan air limau, melainkan juga menyucikan batin dengan memperbaiki diri, menghilangkan sifat tercela, serta mempererat persaudaraan.
(vvr*)









