Jakarta, iNBrita.com – Tentara Sri Lanka mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan ratusan orang yang terjebak banjir. Bencana ini menewaskan 123 orang dan 130 lainnya masih hilang.
Pusat Penanggulangan Bencana (DMC) melaporkan bahwa jumlah korban tewas terus bertambah karena petugas menemukan lebih banyak jenazah di kawasan tengah, area yang paling parah terdampak. Di wilayah itu, tanah longsor minggu ini mengubur banyak warga hidup-hidup.
Hujan turun di seluruh pulau, dan beberapa daerah menerima hingga 360 milimeter hujan dalam 24 jam terakhir.
Sungai Kelani, yang mengalir ke Samudra Hindia dekat Kolombo, meluap pada Jumat (28/11).
Direktur Jenderal DMC, Sampath Kotuwegoda, menyatakan bahwa operasi bantuan masih berlangsung. Ia menjelaskan bahwa 43.995 orang mengungsi ke pusat pemerintah setelah rumah mereka hancur akibat hujan selama seminggu.
Helikopter dan kapal angkatan laut melakukan penyelamatan, mengevakuasi warga dari puncak pohon, atap rumah, dan desa yang terisolasi banjir.
V. S. A. Ratnayake, 56 tahun, mengungsi dari rumahnya di Kaduwela, dekat Kolombo, setelah banjir merendam seluruh bangunan.
“Saya rasa ini banjir terburuk di daerah kami dalam tiga dekade,” kata Ratnayake kepada AFP pada Sabtu (29/11/2025). “Saya ingat banjir tahun 1990-an ketika rumah saya tenggelam hingga tujuh kaki.”
Sedikitnya 3.000 rumah rusak akibat longsor dan banjir. Lebih dari 18.000 orang juga mengungsi ke tempat penampungan sementara.
DMC memperkirakan hujan akan turun lebih banyak. Mereka juga menyebut bahwa Siklon Ditwah kemungkinan bergerak menjauh ke utara menuju Tamil Nadu, India, pada Minggu.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan belasungkawa atas banyaknya korban jiwa di Sri Lanka. Ia menyatakan bahwa pemerintah India mempercepat pengiriman bantuan.
“Kami siap memberikan lebih banyak bantuan sesuai perkembangan,” tulisnya di platform X.
Pejabat DMC memperingatkan bahwa banjir kali ini mungkin lebih parah daripada tahun 2016, ketika 71 orang meninggal.
(VVR*)














