Jakarta, iNBrita.com – Banyak orang masih percaya bahwa terlalu sering makan telur bisa menyebabkan bisul. Anggapan tersebut bahkan cukup populer di kalangan orang tua yang khawatir memberikan telur kepada anak.
Namun, anggapan itu tidak tepat. Telur bukan penyebab langsung munculnya bisul. Infeksi bakteri Staphylococcus aureus justru menjadi penyebab utama munculnya bisul pada kulit.
Bakteri Menjadi Penyebab Utama Bisul
Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi dari IPB University menjelaskan bahwa Staphylococcus aureus sebenarnya termasuk flora normal yang dapat hidup di kulit manusia.
Bakteri tersebut tidak selalu menimbulkan masalah. Namun, kondisi tertentu dapat membuat bakteri berkembang dan menyebabkan infeksi pada kulit.
Sistem kekebalan tubuh yang menurun dapat meningkatkan risiko infeksi. Selain itu, kebersihan tubuh yang kurang juga dapat mempermudah bakteri masuk ke dalam kulit.
Anak-anak juga lebih rentan mengalami bisul. Sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang sehingga belum bekerja seoptimal orang dewasa.
Aktivitas anak yang tinggi turut meningkatkan risiko munculnya luka kecil pada kulit. Gesekan atau kebiasaan menggaruk kulit dapat membuat permukaan kulit terluka.
Kondisi tersebut kemudian membuka jalan bagi bakteri untuk masuk ke jaringan kulit dan memicu infeksi.
Kebersihan Kulit Perlu Mendapat Perhatian
Selain menjaga daya tahan tubuh, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan kulit untuk mengurangi risiko bisul.
Kebiasaan sederhana seperti mandi secara teratur dapat membantu menjaga kebersihan kulit. Orang tua juga perlu memastikan anak memotong kuku secara rutin.
Kuku yang panjang dapat menyimpan kotoran dan bakteri. Ketika anak menggaruk kulit, bakteri tersebut dapat masuk melalui luka kecil.
Karena itu, menjaga kebersihan tubuh menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah infeksi kulit.
Alergi Telur Berbeda dengan Bisul
Telur memang dapat menimbulkan masalah pada kulit, tetapi kondisi tersebut biasanya berkaitan dengan alergi. Orang yang memiliki alergi telur dapat mengalami bentol, ruam kemerahan, atau rasa gatal setelah mengonsumsi telur.
Rasa gatal kemudian dapat mendorong seseorang untuk menggaruk kulit. Jika garukan menimbulkan luka terbuka, bakteri Staphylococcus aureus dapat masuk dan menyebabkan infeksi.
Sementara itu, bisul biasanya muncul sebagai benjolan pada kulit. Benjolan tersebut dapat terasa nyeri dan mengandung nanah.
Dengan demikian, masyarakat perlu membedakan reaksi alergi telur dengan infeksi yang menyebabkan bisul.
Tidak Perlu Takut Makan Telur
Orang sehat yang tidak memiliki alergi telur tidak perlu menghindari telur karena takut mengalami bisul. Telur tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang jika seseorang mengonsumsinya sesuai kebutuhan.
Satu butir telur mengandung sekitar 6–7 gram protein. Protein tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh.
Namun, kebutuhan protein sebaiknya tidak hanya berasal dari telur. Masyarakat juga perlu mengonsumsi beragam sumber protein dari pangan hewani dan nabati.
Telur juga mengandung sekitar 5–5,3 gram lemak per butir. Kandungan lemak jenuhnya mencapai sekitar 1,5–1,6 gram.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan jumlah dan variasi makanan dalam menu sehari-hari.
Pada akhirnya, telur bukan penyebab langsung bisul. Infeksi bakteri, kondisi kulit, kebersihan tubuh, dan daya tahan tubuh memiliki kaitan yang lebih erat dengan munculnya bisul.
(VVR*)









