Benarkah Emosi Terpendam Dapat Memicu Kanker?
Jakarta, iNBrita.com — Belakangan ini, media sosial kembali membahas isu emosi yang dipendam dan kaitannya dengan risiko kanker. Menanggapi hal tersebut, spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, menyatakan bahwa pernyataan itu memang memiliki dasar, tetapi tidak dapat disimpulkan secara sederhana.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua emosi yang seseorang pendam akan memicu kanker. Sebaliknya, kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang mengalami stres berat berkepanjangan atau depresi, bukan stres ringan yang terjadi sehari-hari.
“Dengan kata lain, risiko muncul ketika seseorang mengalami luapan emosi yang terus berlangsung hingga berkembang menjadi depresi dan stres berat,” ujarnya dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta Pusat.
Bagaimana mekanismenya terjadi ?
Lebih lanjut, Dr. Andhika menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami depresi, tubuh akan melepaskan sitokin pro-inflamasi. Zat ini kemudian memicu peradangan di dalam tubuh.
Akibatnya, peradangan yang berlangsung lama mengganggu keseimbangan tubuh dan meningkatkan suhu tubuh. Pada kondisi ini, sel-sel tubuh mengalami tekanan lingkungan yang tidak normal.
Seiring waktu, kondisi tersebut mendorong perubahan pada materi genetik sel. Jika proses ini berlanjut, kerusakan genetik tersebut mengubah protein sel dan berpotensi membentuk sel kanker.
Proses tidak terjadi secara instan
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses tersebut tidak langsung menyebabkan kanker. Sebaliknya, tubuh membutuhkan waktu panjang serta rangkaian mekanisme kompleks sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi kanker.
Selain itu, faktor lain juga memengaruhi risiko kanker, seperti gaya hidup tidak sehat, faktor keturunan, dan lingkungan. Oleh karena itu, emosi tidak berdiri sebagai satu-satunya penyebab.
Upaya pencegahan kanker
Dengan demikian, seseorang perlu menjaga kesehatan mental untuk menurunkan risiko. Misalnya, seseorang dapat mengelola stres, berolahraga secara rutin, serta melakukan aktivitas rekreasi seperti berjalan-jalan atau bersantai.
Pada akhirnya, seseorang yang menjaga keseimbangan fisik dan mental akan lebih mampu menurunkan risiko berbagai penyakit.









