Jakarta, iNBrita.com – Harga emas dunia kembali menguat pada Senin, 2 November 2026. Penguatan ini mengakhiri tekanan yang membawa harga emas ke level terendah dalam satu tahun pada sesi sebelumnya. Penurunan harga minyak dunia turut mendorong kenaikan emas karena kondisi tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi. Selain itu, pelaku pasar mulai mencermati pemilihan paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat (AS).
CNBC melaporkan pada Selasa (3/11/2026), harga emas di pasar spot naik 1,8% menjadi US$ 3.943,62 per ons pada pukul 14.54 waktu setempat (ET). Sebelumnya, harga emas sempat merosot 3,6% pada Jumat hingga menyentuh level terendah sejak Oktober 2025.
Sejalan dengan kenaikan tersebut, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga mencatat penguatan. Kontrak ini ditutup naik 1,8% ke posisi US$ 3.969,60 per ons.
Penurunan Harga Minyak Dorong Penguatan Emas
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga emas berasal dari pasar minyak. Pada Senin, harga minyak dunia merosot sekitar 8%. Penurunan tersebut terjadi setelah Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut. Kedua negara membahas upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran.
Koreksi harga minyak memberikan ruang bagi pasar untuk mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Meski demikian, investor masih memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Desember.
Wakil Presiden Zaner Metals menjelaskan bahwa pelemahan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, meskipun peluangnya mulai menurun dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Selain itu, pergerakan dolar AS turut memberikan sentimen positif bagi harga emas. Data FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan bahwa pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai sekitar 75%. Angka tersebut turun dari perkiraan 80% pada pekan sebelumnya.
Aksi Jual Saham Teknologi Tekan Harga Emas
Di sisi lain, tekanan di pasar saham turut memengaruhi pergerakan harga emas. Para analis menilai aksi jual besar-besaran saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) pada Jumat telah menyebar ke berbagai sektor pasar.
Kondisi tersebut memicu margin call atau permintaan tambahan dana jaminan kepada investor. Akibatnya, sejumlah investor menjual berbagai aset, termasuk emas yang selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven.
Namun, indikator teknikal mulai menunjukkan perbaikan. Relative Strength Index (RSI) 14 hari, yang mengukur kondisi jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold), naik menjadi sekitar 37 pada Senin.
Sebagai perbandingan, indikator tersebut sempat berada di bawah level 30 pada Jumat. Kenaikan RSI ini menunjukkan bahwa harga emas mulai meninggalkan zona jenuh jual secara teknikal.
Investor Cermati Dampak Pemilu Paruh Waktu AS
Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung pada 3 November 2026. Hasil pemilu tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan fiskal, perkembangan geopolitik, serta sentimen pasar keuangan secara keseluruhan.
Analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai hasil pemilu kemungkinan tidak akan mengubah kondisi fiskal AS secara signifikan. Menurutnya, pemerintah AS akan tetap menghadapi defisit anggaran, siapa pun yang memenangkan pemilihan tersebut.
Menke juga memperkirakan beban utang dan pembayaran bunga pemerintah AS akan terus menjadi faktor yang mendukung harga emas dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat emas tetap memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Harga Perak dan Logam Mulia Lainnya Ikut Bergerak
Sementara itu, sejumlah logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang beragam pada perdagangan Senin.
Harga perak di pasar spot naik 2,9% menjadi US$ 50,54 per ons. Sebelumnya, harga perak sempat menembus ke bawah level US$ 50 untuk pertama kalinya sejak akhir November 2025.
Berbeda dengan perak dan emas, platinum hanya mencatat kenaikan 1,3% ke posisi US$ 1.449,70 per ons. Sebaliknya, paladium mengalami pelemahan sebesar 1,1% dan berakhir pada US$ 965,91 per ons.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih merespons berbagai faktor ekonomi global. Penurunan harga minyak, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta hasil pemilu paruh waktu AS menjadi sejumlah faktor yang terus dicermati investor.
(vvr*)









