Hutan Dunia Pulih Alami, Serap Karbon Raksasa

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Januari 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Citra satelit memperlihatkan hutan tropis yang tumbuh kembali secara alami di kawasan bekas deforestasi.

Citra satelit memperlihatkan hutan tropis yang tumbuh kembali secara alami di kawasan bekas deforestasi.

Jakarta, iNBrita.comCitra satelit terbaru menunjukkan fenomena penting di hutan-hutan dunia. Di tengah deforestasi dan krisis iklim, alam ternyata memiliki kemampuan memulihkan diri secara alami jika manusia memberi ruang dan perlindungan.

Studi terbaru di jurnal Nature mengungkap bahwa sekitar 530 juta hektar lahan tropis bekas hutan dapat tumbuh kembali secara alami tanpa perlu penanaman ulang. Alam hanya membutuhkan waktu dan perlindungan dari gangguan manusia.

Jika proses ini berjalan, hutan yang pulih secara alami dapat menyerap hingga 23,4 gigaton karbon dalam 30 tahun. Pemulihan ini tidak hanya menekan perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan keanekaragaman hayati, memperbaiki kualitas air, dan menstabilkan iklim lokal.

Lebih Terjangkau dan Berkelanjutan

Para peneliti menilai regenerasi alami jauh lebih efisien dibandingkan reboisasi konvensional. Proses ini hanya membutuhkan biaya sekitar USD 5 atau Rp 84 ribu per acre, sementara penanaman pohon aktif dapat menghabiskan hingga USD 10.000 atau Rp 168 juta per acre.

Selain lebih murah, hutan yang tumbuh secara alami juga membentuk ekosistem yang lebih beragam dan lebih stabil dalam jangka panjang.

Brooke Williams dari Queensland University of Technology dan Institute for Capacity Exchange in Environmental Decisions menjelaskan bahwa regenerasi alami membantu negara mencapai target restorasi hutan dengan biaya jauh lebih rendah.

Meski begitu, manusia tetap perlu berperan. Masyarakat dan pemerintah dapat mempercepat pemulihan hutan dengan mencegah kebakaran, mengendalikan spesies invasif, dan membatasi aktivitas ternak melalui pagar atau pengaturan lahan.

Indonesia Masuk Daftar Negara Kunci

Peneliti mengidentifikasi lima negara yang menyimpan lebih dari setengah potensi regenerasi alami dunia, yaitu Brasil, Indonesia, China, Meksiko, dan Kolombia. Negara-negara ini memiliki tanah dengan kandungan karbon tinggi dan lokasi yang dekat dengan hutan alami, sehingga benih dapat menyebar dengan mudah.

Data satelit periode 2000–2015 menunjukkan bahwa hutan tumbuh paling cepat dalam jarak 300 meter dari hutan yang masih utuh. Tanah dengan kandungan karbon organik tinggi juga mempercepat proses pemulihan.

Untuk memetakan potensi ini, para peneliti menggunakan citra satelit resolusi tinggi dan kecerdasan buatan. Teknologi ini membantu mereka membedakan hutan alami dari hutan hasil penanaman manusia. Mereka kemudian menghasilkan peta digital beresolusi 30 meter yang menunjukkan peluang regenerasi di setiap wilayah.

Peta tersebut dapat membantu pemerintah daerah, komunitas, dan pembuat kebijakan menentukan area restorasi prioritas serta mengaitkannya dengan ekonomi lokal dan skema kredit karbon.

Tantangan Regenerasi Alami

Meski menjanjikan, hutan muda tetap menghadapi risiko. Ekspansi pertanian, pembangunan, dan kebakaran dapat kembali merusak hutan yang baru tumbuh. Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya perlindungan jangka panjang dan insentif ekonomi bagi masyarakat lokal.

Sayangnya, banyak skema karbon saat ini belum sepenuhnya mengakui nilai hutan yang tumbuh secara alami.

Matthew Fagan dari University of Maryland menegaskan bahwa keberhasilan regenerasi alami sangat bergantung pada tata kelola lokal, kesadaran publik, dan reformasi kebijakan.

Tanpa perlindungan berkelanjutan, manfaat regenerasi alami dapat hilang dengan cepat.

Jika manusia mampu mewujudkan sebagian saja dari potensi ini, regenerasi alami dapat mengurangi hampir 27 persen emisi karbon global dari lahan terdeforestasi. Dampaknya akan terasa pada iklim, ketersediaan air bersih, kestabilan tanah, dan pemulihan habitat satwa.

Para peneliti menyimpulkan bahwa di tengah maraknya kampanye tanam pohon, solusi paling kuat justru datang dari alam sendiri selama manusia memberi ruang, waktu, dan perlindungan yang memadai.

(Ven*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September 2026 Hadirkan Fenomena Langit yang Memukau
Rumah Hijau Nepal Bertahan di Tengah Banjir Dahsyat
Chelsea Berpeluang Dapat Rp 2,7 Triliun dari Penjualan Striker
Hutan Terluas Dunia Menghadapi Ancaman dan Kerusakan
Aisha Wahab Menang Pemilu Khusus DPR Amerika
Harga Cincin Emas Juara Piala Dunia 2026 Capai Rp196 Juta
Neymar Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026 Bersama Brasil
Gerhana Matahari Total Terlama 2027 Ini Wilayah yang Dilintasi
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

September 2026 Hadirkan Fenomena Langit yang Memukau

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Rumah Hijau Nepal Bertahan di Tengah Banjir Dahsyat

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Chelsea Berpeluang Dapat Rp 2,7 Triliun dari Penjualan Striker

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Hutan Terluas Dunia Menghadapi Ancaman dan Kerusakan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Aisha Wahab Menang Pemilu Khusus DPR Amerika

Berita Terbaru

Pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, menjadi fasilitas produksi kendaraan BYD untuk pasar Indonesia.(Foto : Arief A/Liputan6.com)

Teknologi

Harga Mobil BYD Setelah Produksi Lokal, Apakah Turun?

Minggu, 6 Sep 2026 - 19:00 WIB

Hengdian World Studio menghadirkan pengalaman bagi wisatawan untuk membuat dan membintangi drama pendek sendiri.(Foto : Ilustrasi Papan Slate Film (Pixabay)

Travel

Hengdian Tawarkan Wisata Bikin Drama Pendek Sendiri

Minggu, 6 Sep 2026 - 18:00 WIB

Harga emas Antam hari ini berada di level Rp2.640.000 per gram.(Foto : ANTARA/GALIH PRADIPTA)

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Turun, Cek Daftar Lengkap

Minggu, 6 Sep 2026 - 14:00 WIB

Cadangan emas menjadi bagian penting dalam strategi bank sentral menghadapi inflasi dan risiko geopolitik.(Foto : Ilustrasi emas. (Freepik)

Ekonomi

Bank Sentral Borong Emas, Harga dan Investasi Jadi Sorotan

Minggu, 6 Sep 2026 - 12:00 WIB

Bunda Literasi Sri Kartini Alfin mendampingi murid SD dalam kegiatan literasi di perpustakaan.

SUNGAI PENUH

Bunda Literasi Sri Kartini Ajak Anak Gemar Membaca

Sabtu, 5 Sep 2026 - 10:00 WIB