Jakarta, iNBrita.com – Kepolisian Korea Selatan mengumumkan hasil operasi besar terkait kejahatan seks siber. Dalam periode November 2024 hingga Oktober 2025, polisi menangkap 3.557 tersangka. Dari jumlah itu, 221 orang langsung masuk tahanan.
Operasi ini muncul setelah polisi menemukan ruang obrolan Telegram pada Agustus 2024. Di sana, para anggota membagikan gambar seksual yang dibuat dengan teknologi deepfake. Konten tersebut tampak nyata, tetapi sebenarnya palsu.
Dari 4.413 laporan, polisi mengidentifikasi 3.411 kasus sebagai kejahatan seks siber. Kejahatan deepfake menempati posisi tertinggi, yaitu 1.553 kasus atau 35,2 persen.
Polisi juga mencatat 1.513 kasus eksploitasi seksual anak dan 857 kasus penyebaran konten ilegal hasil perekaman diam-diam. Jika konten deepfake melibatkan anak, kasus tersebut masuk dua kategori sekaligus.
Data menunjukkan 47,6 persen pelaku masih berusia remaja. Pelaku berusia 20-an menyusul dengan angka 33,2 persen. Usia 30-an dan 40-an mencatat angka 12,7 persen dan 4,6 persen.
Pada kasus deepfake, jumlah pelaku remaja melonjak menjadi 61,8 persen atau 895 orang. Polisi menilai remaja lebih cepat menguasai teknologi, sehingga mereka mudah mengakses alat berbasis AI.
Jumlah tersangka pada periode ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Pada periode sebelumnya, polisi mencatat 2.406 tersangka. Kemajuan teknologi AI dan revisi undang-undang menjadi faktor pendorong peningkatan ini.
KNPA menargetkan operasi ini berlangsung sampai Oktober 2026. Polisi akan fokus pada kejahatan yang memakai teknologi AI dan alat generatif. Mereka juga bekerja sama dengan Telegram dan Komisi Standar Komunikasi Korea untuk memblokir konten eksplisit.
Untuk menekan keterlibatan remaja, polisi menggandeng Kementerian Pendidikan. Mereka akan memasukkan materi pencegahan kejahatan deepfake ke sekolah serta memperluas kampanye kesadaran digital.
(ES*)














