Home / Kesehatan

Jumat, 2 Januari 2026 - 02:00 WIB

Lonjakan H3N2 Subclade K Picu Kekhawatiran Super Flu

Seorang pasien anak dirawat di rumah sakit dengan infus, ilustrasi penanganan kasus influenza berat.

Seorang pasien anak dirawat di rumah sakit dengan infus, ilustrasi penanganan kasus influenza berat.

Jakarta, iNBrita.com – Lonjakan kasus influenza akibat varian baru influenza A (H3N2) subclade K di sejumlah negara memicu kekhawatiran publik terhadap potensi pandemi pasca-COVID-19.

Istilah “super flu” muncul karena dugaan virus ini menular lebih cepat. Namun, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menegaskan kondisi saat ini belum mengarah ke pandemi.

“Perkembangan saat ini menunjukkan super flu hanya berpotensi menyebabkan gelombang flu yang lebih berat dari biasanya, belum menuju pandemi,” ujar Prof Tjandra, Kamis (1/1/2026).

Tiga Faktor Penentu Pandemi

Prof Tjandra menyatakan para ahli tidak bisa menilai potensi pandemi secara tergesa-gesa. Mereka harus mempertimbangkan beberapa faktor utama.

Ia menyebut tiga syarat agar super flu berkembang menjadi pandemi, seperti influenza H1N1 pada 2009.

Pertama, virus H3N2 harus mengalami mutasi besar hingga menjadi varian baru yang sangat berbeda.

Kedua, virus harus menunjukkan peningkatan tajam dalam penularan dan keparahan penyakit.

Ketiga, virus harus menyebar luas lintas negara hingga tidak lagi terbendung.

Baca juga :   LPEI Dukung UMKM Ekspor Lewat Pelatihan dan Pembiayaan

“Jika ketiga faktor ini tidak muncul bersamaan, peluang pandemi tetap kecil,” jelasnya.

H3N2 Bukan Virus Baru

Prof Tjandra menegaskan bahwa virus H3N2 bukan virus baru. Lonjakan kasus di Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat, serta kemungkinan di Malaysia dan Thailand, juga melibatkan virus ini.

Dunia bahkan pernah mengalami wabah besar influenza H3N2 pada 1968, meski belum melibatkan subclade K.

Mutasi dan Situasi Global

Meski demikian, para ahli tetap perlu waspada. Virus H3N2 subclade K telah mengalami sekitar tujuh mutasi. WHO sejak November 2025 mencatat virus ini menyebar cepat dan mendominasi kasus influenza di belahan bumi utara.

Di Amerika Serikat, data per 30 Desember 2025 menunjukkan influenza berada pada level tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, naik dari 17 negara bagian pada pekan sebelumnya.

Kasus dan Kematian Meningkat

Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit melonjak menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dari pekan sebelumnya. CDC juga mencatat sekitar 3.100 kematian akibat influenza musim ini.

Baca juga :   Walikota Sungai Penuh Mengajak Warga Bantu Korban Bencana

Dalam satu pekan, jumlah kematian anak meningkat dari tiga menjadi lima kasus.

Mayoritas kasus influenza di Amerika Serikat disebabkan oleh virus H3N2. Para ahli menilai subclade K berpotensi menjadi varian dominan.

Imbauan untuk Masyarakat

Prof Tjandra mengimbau masyarakat tetap waspada. Ia meminta warga yang mengalami gejala flu untuk menjaga kondisi tubuh, memakai masker, dan beristirahat.

Ia juga mendorong masyarakat segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan jika gejala memburuk, serta melapor bila muncul klaster flu di rumah, kantor, atau sekolah.

Peran Pemerintah dan Vaksinasi

Prof Tjandra menegaskan pentingnya vaksinasi influenza, terutama bagi lansia dan penderita penyakit penyerta.

Ia juga meminta pemerintah menyampaikan perkembangan virus H3N2 subclade K secara terbuka, rutin, dan berkelanjutan kepada publik.

“Pemerintah perlu menyampaikan informasi secara transparan, termasuk setelah penemuan 62 kasus ini,” tutupnya.

(Ven*)

Berita ini 12 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Warga menikmati potongan buah segar seperti semangka, melon, dan jeruk di tengah cuaca panas siang hari untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Kesehatan

Makanan dan Minuman Sehat Saat Cuaca Panas Ekstrem
Dokter jantung menjelaskan risiko kematian mendadak saat olahraga akibat gangguan jantung tersembunyi.

Kesehatan

Penyebab Kematian Mendadak Saat Olahraga Terungkap
Bunga lawang kering berbentuk bintang sebagai rempah herbal alami

Kesehatan

Khasiat Bunga Lawang untuk Kesehatan dan Cara Konsumsinya
berbagai tanaman herbal penurun gula darah alami seperti pare kelor jahe dan kayu manis

Kesehatan

Tanaman Herbal Efektif Menurunkan Gula Darah Secara Alami
Petai mentah segar dengan biji hijau dalam polong terbuka

Kesehatan

Manfaat Petai Mentah untuk Kesehatan Tubuh Secara Alami
Orang memeriksa kesehatan jantung, simbol pencegahan serangan jantung pada usia muda.

Kesehatan

Usia Muda Rentan Serangan Jantung, Mulai Hidup Sehat
Orang berjalan kaki santai di taman setelah makan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Kesehatan

Berjalan Kaki Setelah Makan Bikin Tubuh Sehat
Ilustrasi gejala kusta pada kulit manusia.

Kesehatan

Kemenkes Ingatkan Masyarakat Waspadai Gejala Kusta Din