Hidup Sederhana Pedagang Cilok Tua
Jakarta, iNBrita.com — Mislicha Kasib (85), seorang pedagang cilok asal Bugul Kidul, Pasuruan, Jawa Timur, menjadi sorotan karena kisah hidupnya yang penuh ketekunan dan kerja keras. Di usianya yang sudah lanjut, ia justru tengah bersiap menjadi calon jemaah haji 1447 H/2026 setelah menunggu selama bertahun-tahun.
Setiap hari, Mislicha menjalani rutinitas yang tidak ringan. Ia bangun sangat dini, sekitar pukul 02.00 WIB, untuk memulai aktivitas di dapur. Setelah seluruh persiapan selesai, ia kemudian berangkat ke lokasi berjualan di depan SMP 5 Jalan Trunojoyo dan mulai berjualan sekitar pukul 08.00 WIB.
Tetap Mandiri di Usia Lanjut
Meski sudah berusia 85 tahun, Mislicha tetap berusaha mandiri. Ia masih mendorong gerobaknya sendiri sejauh sekitar satu kilometer dari rumah menuju tempat berjualan. Aktivitas itu ia lakukan setiap hari tanpa bantuan orang lain. Saat lelah, ia hanya mengandalkan jamu tradisional untuk memulihkan tenaga.
Dari hasil berdagang, penghasilan Mislicha tidak besar, hanya sekitar Rp50 ribu per hari saat dagangan ramai. Namun demikian, ia konsisten menyisihkan sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap hari untuk tabungan haji. Selain itu, ia juga menambahnya dari uang arisan yang ia ikuti secara rutin.
Perjalanan hidupnya tidak mudah. Titik terberat terjadi saat suaminya meninggal dunia 12 tahun lalu. Sejak itu, ia membesarkan delapan anak seorang diri hanya dari hasil berjualan cilok. Meski penuh keterbatasan, ia tetap bertahan dan tidak menyerah.
Penantian Panjang Menuju Tanah Suci
Upayanya akhirnya telah membuahkan hasil. Pada 2017, Mislicha mendaftar haji dan setelah menunggu sembilan tahun, ia kini masuk Kloter 10 Embarkasi Surabaya untuk berangkat ke Tanah Suci.
Menjelang keberangkatan, ia hanya membawa doa sederhana untuk kesehatan diri dan keluarga. Ia pun didampingi putri bungsunya, Mariatul Qibtiyah (35), yang ikut berjualan cilok agar bisa menabung sekaligus menemani sang ibu ke Tanah Suci.
(eny)









