Home / Internasional

Minggu, 18 Januari 2026 - 04:00 WIB

Penindakan Brutal Iran, Ribuan Tewas Unjuk Rasa Antipemerintah

Aparat keamanan Iran menghadapi demonstran dalam aksi antipemerintah di Teheran di tengah pemadaman akses internet.

Aparat keamanan Iran menghadapi demonstran dalam aksi antipemerintah di Teheran di tengah pemadaman akses internet.

Teheran, iNBrita.comUnjuk rasa antipemerintah di Iran mulai mereda setelah pemerintah menindak demonstran secara keras dan memutus akses internet. Penindakan tersebut mendorong jumlah korban tewas melonjak hingga lebih dari 3.000 orang.

Protes Berawal dari Bazaar Teheran

Warga memulai gelombang protes dari kawasan bazaar Teheran pada 28 Desember. Tekanan ekonomi yang semakin berat mendorong aksi ini berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut penghapusan sistem ulama yang berkuasa sejak Revolusi 1979.

Internet Dipadamkan, Aparat Dikerahkan

Massa kembali turun ke jalan di kota-kota besar pada 8 Januari. Pemerintah Iran merespons dengan memadamkan akses internet selama lebih dari sepekan. Para aktivis menilai langkah ini bertujuan menutupi skala penindasan aparat keamanan.

Pengamat: Penindakan Brutal, Protes Bisa Muncul Lagi

Institut Studi Perang (ISW) di Amerika Serikat menyebut pemerintah Iran melakukan penindakan brutal dan berhasil menekan protes untuk sementara. Namun, ISW menilai pengerahan besar-besaran pasukan keamanan tidak berkelanjutan, sehingga aksi protes berpotensi kembali terjadi.

Baca juga :   PDIP Jatim Hormati Proses Hukum Bupati Ponorogo

Ribuan Demonstran Dilaporkan Tewas

Iran Human Rights (IHR) di Norwegia melaporkan sedikitnya 3.428 demonstran tewas akibat tindakan aparat. IHR memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa melebihi 5.000 orang, bahkan mencapai 20.000 orang, karena pemadaman internet menghambat verifikasi.

Saluran oposisi Iran Internasional, yang berbasis di luar negeri, mengutip sumber senior pemerintah dan aparat keamanan Iran dan menyebut sedikitnya 12.000 orang tewas selama unjuk rasa.

Kesaksian Eksekusi di Jalanan

Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam mengatakan pihaknya menerima kesaksian langsung tentang aparat yang menembaki demonstran yang melarikan diri, menggunakan senjata militer, dan mengeksekusi korban luka di jalanan.

Baca juga :   Trump Hentikan Keterlibatan AS di 66 Organisasi Global

Data HAM Masih Bertambah

Organisasi Human Rights Activists in Iran (HRANA) mencatat hingga 15 Januari sebanyak 2.677 kematian telah terkonfirmasi, sementara 1.693 kasus lain masih diselidiki.

Pemerintah Iran Bantah Angka Korban

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Fox News bahwa korban tewas hanya berjumlah “ratusan orang”. Ia menyebut laporan kelompok HAM sebagai angka berlebihan dan bagian dari kampanye disinformasi.

Araghchi menilai laporan tersebut bertujuan memancing Presiden AS Donald Trump agar menyerang Iran.

Hingga kini, pemerintah Iran hanya mengakui puluhan kematian dari pihak pasukan keamanan dan belum merilis data korban terbaru secara resmi.

(Ven*)

Berita ini 9 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Ilustrasi emas batangan sebagai simbol kenaikan harga emas dunia

Internasional

Prospek Harga Emas Dunia Diprediksi Tembus US$6000
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC.

Internasional

Donald Trump Umumkan Operasi Militer Besar ke Iran
Maarten Paes resmi menjadi kiper Ajax Amsterdam

Internasional

Maarten Paes Gabung Ajax Amsterdam sebagai Kiper Utama

Internasional

Trump : Sebuah Kehormatan Paus Pertama Terpilih dari AS
Tiongkok. Warga Gaza mengantre untuk menerima bantuan kemanusiaan.

Internasional

Tiongkok Dorong Gencatan Senjata Menyeluruh di Gaza
Pemain Newcastle Anthony Gordon merayakan gol penalti melawan Manchester United MU di Liga Inggris 2025/26.

Internasional

Newcastle Kalahkan MU 2-1 Meski 10 Pemain
Jonatan Christie tampil fokus di semifinal India Open 2026

Internasional

Jonatan Christie Tantang Loh Kean Yew Semifinal
Ilustrasi emas batangan dengan grafik harga emas hari ini, mencerminkan tren kenaikan akibat ketegangan geopolitik

Internasional

Harga Emas Minyak Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah