Jakarta, iNBrita.com — Penyakit Lupus Banyak orang merasa takut setelah menerima diagnosis Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus. Namun demikian, banyak orang masih menganggap bahwa penderita lupus tidak dapat menjalani hidup normal seperti orang lain. Sayangnya, masyarakat sering memperkuat ketakutan ini melalui berbagai mitos dan informasi yang tidak akurat dari media sosial maupun cerita dari mulut ke mulut.
Akibatnya, banyak pasien menunda pengobatan dengan mencoba terapi alternatif yang belum terbukti secara ilmiah, atau bahkan menghentikan pengobatan karena mempercayai mitos tertentu. Jika kondisi ini terus berlangsung, penyakit akan berkembang dan merusak organ tubuh.
Dokter spesialis reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, menjelaskan bahwa masyarakat masih menyebarkan banyak mitos tentang lupus. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya meluruskan kesalahpahaman tersebut agar pasien segera mendapatkan penanganan yang tepat.
“Kami berharap teman-teman media membantu meluruskan berbagai mitos keliru agar penyandang lupus mendapatkan pengobatan yang tepat sejak dini tanpa ketakutan yang tidak perlu,” ujar dr. Sandra dalam acara World Lupus Day Media Conference: From Burden to Living Well Through Improved Care for Systemic Lupus Erythematosus bersama AstraZeneca Indonesia di RA Simatupang Suites.
Apa Itu Penyakit Lupus?
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang menyerang tubuh ketika sistem kekebalan tidak berfungsi dengan baik. Dalam kondisi normal, sistem imun melindungi tubuh dari virus dan bakteri. Namun pada penderita lupus, sistem imun justru menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri.
Akibatnya, peradangan kronis merusak berbagai organ penting seperti kulit, sendi, ginjal, paru-paru, jantung, dan otak. Selain itu, gejala lupus muncul dalam berbagai bentuk sehingga penyakit ini sering disebut “penyakit seribu wajah”. Kondisi ini membuat dokter sering terlambat mendiagnosis lupus.
Menepis 3 Mitos Seputar Penyakit Lupus
Masyarakat masih mempercayai berbagai mitos tentang lupus yang dapat membahayakan pasien jika tidak dikoreksi. Jika pasien mengikuti mitos tersebut tanpa verifikasi medis, mereka akan menunda pengobatan dan memperburuk kondisi penyakit.
Pada akhirnya, penyakit berkembang dan meningkatkan risiko kerusakan organ. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami fakta medis yang benar. Berikut tiga mitos yang paling sering muncul:
- Semua obat lupus merusak ginjal
Banyak orang percaya bahwa obat lupus merusak ginjal. Padahal, pengobatan lupus justru melindungi ginjal dengan mengendalikan peradangan dalam tubuh.
“Dengan mengendalikan lupus, kami mencegah komplikasi ke organ tubuh termasuk ginjal,” jelas dr. Sandra. Dengan demikian, dokter memberikan obat untuk mencegah kerusakan, bukan menyebabkannya.
- Lupus tidak bisa sembuh, jadi percuma diobati
Banyak orang menganggap pengobatan lupus tidak berguna karena penyakit ini tidak bisa sembuh total. Namun demikian, dokter tetap mengobati lupus untuk mengendalikan aktivitas penyakit.
“Jika kami mengobati lebih cepat, hasilnya akan lebih baik,” ujar dr. Sandra. Dengan kata lain, pengobatan membantu pasien mencapai kondisi remisi dan mencegah kerusakan organ.
- Wanita lupus tidak bisa hamil
Banyak pasien percaya bahwa lupus membuat mereka tidak bisa hamil. Namun faktanya, dokter membantu pasien lupus untuk tetap bisa hamil jika penyakitnya terkontrol.
“Pasien bisa hamil jika kondisinya terkendali dengan baik,” kata dr. Sandra. Oleh karena itu, dokter menganjurkan perencanaan kehamilan yang tepat agar ibu dan janin tetap aman.
Pentingnya Deteksi Dini
Sebagai penutup, dokter menekankan pentingnya deteksi dini, pengobatan tepat, dan kepatuhan terapi dalam menangani lupus. Jika seseorang mengalami gejala seperti nyeri sendi berkepanjangan, kelelahan ekstrem, atau ruam kulit, ia harus segera memeriksakan diri ke dokter spesialis reumatologi.
Dengan demikian, penanganan cepat membantu mencegah kerusakan organ yang lebih serius.









