Dana Transfer Menurun Pelayanan Publik Daerah Terancam

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 27 Agustus 2025 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rizal Djalil, mantan Ketua BPK RI dan anggota DPR RI, memberikan analisis terkait pemangkasan Dana Transfer Daerah.

Rizal Djalil, mantan Ketua BPK RI dan anggota DPR RI, memberikan analisis terkait pemangkasan Dana Transfer Daerah.

Oleh: Rizal Djalil

Dana Transfer Daerah Dipangkas

Pemerintah berencana menurunkan Dana Transfer Daerah (TKD) tahun 2026 menjadi Rp 650 triliun. Angka ini berarti lebih rendah Rp 269,9 triliun atau 29,34 persen dibandingkan dengan tahun 2025 yang mencapai Rp 919,9 triliun.
Menteri Keuangan menyampaikan rencana itu dalam rapat bersama DPR RI pada 21 Agustus 2025. Usulan ini masih dalam pembahasan dan membutuhkan persetujuan DPR.

Daerah Masih Bergantung pada Pusat

Sebagian besar daerah di Indonesia bergantung pada transfer pusat. Dari 552 daerah, sebanyak 493 daerah memiliki keterbatasan fiskal. Sebaliknya, hanya DKI Jakarta yang mampu bertahan dengan PAD 2024 mencapai Rp 50,67 triliun.
Kondisi ini menimbulkan masalah. Misalnya, Gubernur Maluku Utara menegaskan bahwa seluruh Dana Alokasi Umum (DAU) habis untuk membayar gaji pegawai.

Pajak Daerah Melonjak dan Rakyat Melawan

Karena dana berkurang, pemerintah daerah memilih menaikkan pajak. Pati menaikkan PBB hingga 250%, Bone sebesar 300%, Semarang mencapai 400%, dan Cirebon bahkan 1000%.
Namun, kebijakan itu menimbulkan perlawanan. Demonstrasi besar muncul di berbagai daerah. Di Pati, warga tidak hanya menolak kenaikan pajak, tetapi juga menuntut bupati mundur. Akibatnya, stabilitas politik di tingkat lokal ikut terguncang.

Baca Juga :  Danantara Siapkan Pengumuman Petinggi Baru DSI Pekan Ini

Alasan Pemerintah Pusat

Pemerintah menjelaskan bahwa penurunan TKD terjadi karena adanya pergeseran dana ke program prioritas pusat. Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anggarannya naik dari Rp 171 triliun pada 2025 menjadi Rp 335 triliun pada 2026.
Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan besar, sebab hingga Juni 2025, realisasi MBG baru sekitar Rp 5 triliun.

Beban Utang Meningkat

Selain masalah TKD, Indonesia menghadapi beban utang yang semakin berat. Pada Desember 2024, total utang mencapai Rp 10.269 triliun. Angka itu naik tiga kali lipat sejak awal pemerintahan Jokowi. Bahkan, pada 2026 pemerintah masih berencana menambah utang baru sebesar Rp 781,87 triliun.
Jika tren ini berlanjut, Indonesia bisa terjebak dalam krisis utang seperti Sri Lanka.

Baca Juga :  Teti Agus Sandi, Beroperasinya Bandara Depati Parbo " Jarak Kita Semakin Dekat"

Jalan Keluar dan Contoh dari Vietnam

Saya menilai DPR harus menggunakan hak konstitusionalnya untuk mengoreksi usulan pemerintah. TKD tidak boleh dipotong drastis karena dapat mengganggu pelayanan publik. Selain itu, pemerintah sebaiknya lebih transparan, efisien, serta mendorong optimalisasi BUMD agar PAD meningkat.
Vietnam bisa menjadi contoh. Pada semester I 2025, ekonomi Vietnam tumbuh 7,52% dan investasi asing naik 9,4%. Bahkan, pemerintahnya meningkatkan dana transfer ke daerah sebesar 13%. Transparansi, kepastian hukum, dan birokrasi sederhana membuat Vietnam lebih stabil dan menarik investasi.

Kesimpulan

Penurunan Dana Transfer Daerah memang bagian dari strategi fiskal. Akan tetapi, kebijakan ini mengandung risiko besar. Jika salah kelola, kebijakan tersebut bisa memicu gejolak sosial dan menggoyang stabilitas politik nasional. (*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo dan Jokowi Jadi Saksi Pernikahan Rizky Irmansyah
Sungai Barito Surut, Transportasi Kalteng Terancam Lumpuh
Freeport Terus Perkuat Gizi Siswa Sekolah Asrama Papua
Pembatasan Pertalite Segera Berlaku, Cek Kriteria Penerimanya
Polusi Udara Kalteng Picu Puluhan Ribu Kasus ISPA
Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Ini Aturan Terbarunya
Jalan NTT Pulih, Listrik Kembali Normal Pascagempa
Kemensos Kirim 48 Ton Beras untuk Korban Gempa NTT
Berita ini 117 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Prabowo dan Jokowi Jadi Saksi Pernikahan Rizky Irmansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Sungai Barito Surut, Transportasi Kalteng Terancam Lumpuh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 22:00 WIB

Freeport Terus Perkuat Gizi Siswa Sekolah Asrama Papua

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Pembatasan Pertalite Segera Berlaku, Cek Kriteria Penerimanya

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Polusi Udara Kalteng Picu Puluhan Ribu Kasus ISPA

Berita Terbaru

iPhone 18 Pro diprediksi mengalami kenaikan harga akibat kenaikan biaya memori.(Foto: 9to5Mac)

Teknologi

Harga iPhone 18 Pro Diprediksi Naik US$100

Senin, 24 Agu 2026 - 22:00 WIB

Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat melakukan pertemuan bilateral.(Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Ekonomi

Anwar Minta Prabowo Selamatkan Investasi Felda Rp10 Triliun

Senin, 24 Agu 2026 - 20:00 WIB

Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (24/8/2026).(Foto : Liputan6.com/Johan Tallo)

Ekonomi

Rupiah Menguat, Harga Minyak Jadi Sentimen Pasar Hari Ini

Senin, 24 Agu 2026 - 19:00 WIB

Harga emas Antam di Pegadaian mencapai Rp2,782 juta per gram pada Senin (24/8/2026).(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik, Antam Tertinggi

Senin, 24 Agu 2026 - 18:00 WIB

Dokter gigi menjelaskan cara menjaga gigi dan gusi dari karang gigi.

Kesehatan

Karang Gigi Sulit Hilang, Ini Alasan dan Solusinya

Senin, 24 Agu 2026 - 17:00 WIB