Oleh : Hj syamsarina nasution lc.,
iNBrita.com — Zaman Jahiliah adalah masa sebelum datangnya Islam di Jazirah Arab, khususnya sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.
Kata jāhiliyyah berasal dari kata jahl (جهل) yang artinya kebodohan, bukan arti buta huruf, tetapi kebodohan moral, akhlak, dan keyakinan. Fanatisme suku (‘ashabiyyah).
Pada waktu itu kaum Perempuan terpinggirkan , bahkan sering kali dikubur hidup-hidup karena dianggap aib (wa’d al-banāt),
Bahkan budak tidak punya hak , hukum rimba berlaku di mana mana, yang kuat menindas yang lemah, tidak ada rasa kasih sayang.
Mereka juga menyembah berhala, patung patung yang di pahat di ukir oleh tangan mereka sendiri dan di yakini sebagai Tuhan yang patut di sembah .
Bangsa Arab saat tidak bodoh mereka tahu arti ilmu . Ternyata jahiliah bukan berarti bodoh dalam keilmuan , Jahiliyah di sini disematkan karena bobroknya moralitas bangsa Arab kala itu.
Keunggulan Akal dan Akhlak Nabi Muhammad ﷺ
Dalam masalah ilmu keduniawian, bangsa Arab masyhur terkenal sebagai ahli beberapa ilmu seperti ilmu perbintangan atau nujum, perdagangan internasional, dan ilmu syair bahasa . Masyarakat jahiliyah, bangsa arab memiliki kehebatan dalam berniaga.
Bahkan dalam kondisi (musim) yang berbeda sekalipun, yakni berdagang ke negeri Yaman saat musim dingin dan berniaga ke negeri Syam kala musim panas.
Dalam hal lain, bangsa Arab kuno terkenal memiliki ilmu seperti ilmu ‘arrafah yang merupakan ilmu untuk memprediksi masa depan, ataupun peristiwa yang akan datang.
Ilmu ini adalah penggabungan antara ilmu astrologi, astronomi, meteorologi, geografi, dan juga sejarah.
Perpaduan dari ilmu-ilmu itulah yang membuat seorang ‘arraf mampu memprediksi masa depan, waktu-waktu yang tepat untuk melakukan perdagangan, maupun mengenali akibat baik atau buruk suatu rencana.
Konon, salah satu orang yang cukup mahir menguasai ilmu ini adalah Adnan kakek buyut Nabi Muhammad ﷺ. (Mu’jam Lisan Al-Arab fi Al-lughah, karya Muhammad bin Mukrim bin Ali Abu Fadhl (Ibnu Manzhur) Dari beberapa keahlian khas bangsa Arab pra-Islam itu dapat disimpulkan bahwa mereka bukanlah bangsa bodoh.
Namun mengapa istilah jahiliyah disematkan kepada mereka, tidak lain karena berbagai kehebatan tersebut tidak dibarengi dengan ketinggian akhlak.
Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Menjadi Teladan
Maka Jumat tangal 5 agustus 2025 berketepatan 12 rabiul awal 1447 H , merupakan moment kelahiran Nabi tauladan peradaban , sudah selayaknya momentum ini kita jadikan sebagai sarana refleksi diri , penguat rasa syukur ,menjadikan sirah nabawiyah sebagai referensi kehidupan dalam menjalani kehidupan sehari hari. Termaktub dan telah di abadaikan dalam alquran : لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: Al Ahzab : 21)
Karena beliaulah satu-satunya insan yang dipuji oleh Allah sebagai manusia yang paling agung akhlaknya. Manusia yang paling tepat kita jadikan rujukan untuk solusi permasalahan di era moderen sekarang ini. Allah SWT berfirman,
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
”Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang baik.” (QS Al-Qolam [68]: 4).
Di dalam kitab Asyifa Bi Ta’rifi Hukuukil Mustofa disebutkan,
وقد قال وهب بن منبه : قرأت في أحد وسبعين كتابا ، فوجدت في
جميعها أن النبي صلى الله عليه وسلام أرجح الناس عقلا ، وأفضلهم رأيا.
Wahab Bin Munabbih berkata, “Aku telah membaca 71 kitab dan menemukan di seluruh kitab itu bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling unggul akalnya dan terbaik pendapatnya.” (Qodhi Iyadh bin Musa Al Yahsubi, Asyifa Bi Ta’rifi Hukuukil Mustofa; Jainatu Dubai Al Dauliyatul Lil Qur’anil Kariem, hal. 112)
وفي رواية أخرى : فوجدت في جميعها أن الله تعالى لم يعط جميع الناس
من بدء الدنيا إلى انقضائها من العقل في جنب عقله صلى الله عليه وسلام إلا كحبة رمل بين
رمال الدنيا
Di dalam riwayat yang lain Wahab Bin Munabbih berkata, “Aku menemukan di dalam semua kitab itu bahwa sesungguhnya Allah SWT tidaklah memberi daripada perkara akal kepada seluruh manusia mulai dari awal penciptaan dunia hingga di akhir masa dunia kelak dibandingkan akal Nabi Muhammad ﷺ kecuali seperti butiran pasir di antara pasir-pasir dunia.
Akhlak dan akal Nabi Muhammad ﷺ yang sempurna adalah sebuah keunggulan tertinggi dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menandinginya. Sebab Allah sendiri yang memujinya seperti yang tertera dalam surah Al Qolam di atas.
Bahkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha ketika ditanya bagaimana akhlak Nabi, beliau menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al Qur’an. (HR: Ahmad).
Cinta Kepada Rasulullah ﷺ: Tiga Bukti Nyata
1.Banyak bersholawat kepadaNya
2. Menjadikannya teladan dalam kehidupn.
3.Menghidupkan sunah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
من أحيا سنتي عند فساد أمتي كان له أجر شهيد . رواه البيهقي
“Barangsiapa yang menghidupkan sunahku tatkala kerusakan menimpa umatku, maka ia memperoleh pahala orang mati syahid.” (HR: Imam al-Baihaqi).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي في الجنة .
“Barang siapa yang menghidupkan sunahku maka dia telah mencintaiku, barang siapa yang mencintaiku maka dia akan bersamaku di surga.” (HR: Imam Tirmidzi).
Sabdanya yang lain,
مَنٌ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِيٌ عِنٌدَ فَسَادِ اُمَتِيٌ فَلَهُ اَجٌرُ مِائة شَهِيٌدٍ
“Barangsiapa berpegang teguh kepada sunahku ketika rusaknya umatku, maka baginya pahala seratus orang mati syahid.” (HR: Imam al Baihaqi) Mari
Meneladani Rasulullah ﷺ di Era Modern
Mari jadikan momentum Maulid Nabi ﷺ sebagai titik awal revolusi akhlak kita. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan kerja, hingga lingkungan tempat tinggal, sehingga terbentuk kepribadian mulia.
Permasalahan kehidupan modern yang menjauhkan kita dari ketenteraman hidup terjadi karena nilai-nilai ajaran Rasulullah ﷺ semakin tergerus. Semakin ajaran itu hilang, semakin besar risiko kita menghadapi kejahiliyahan modern.
Dekadensi moral, korupsi merajalela, ketimpangan hukum, dan ketidakadilan sosial adalah bukti nyata bobroknya akhlak pejabat dan masyarakat hari ini.
Wallohu a’ lam bissowab.









