Jakarta , iNBrita.com
Kisah hidup Abu Sufyan bin Al-Harits menjadi bukti bahwa hidayah Allah mampu mengubah hati siapa pun. Ia adalah sepupu sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad SAW.
Dahulu, ia termasuk musuh terkeras dakwah Islam. Namun akhirnya, ia berubah menjadi salah satu sahabat paling setia Rasulullah SAW.
Abu Sufyan bin Al-Harits merupakan anak dari Al-Harits bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sama dengan Rasulullah. Mereka sering bermain bersama dan memiliki hubungan yang sangat dekat.
Selain itu, Abu Sufyan dikenal sebagai penunggang kuda yang tangguh dan penyair berbakat. Namun, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, kehidupannya berubah drastis. Ia justru menjadi salah satu orang yang paling keras menentang dakwah Islam.
Sebagai penyair Quraisy, Abu Sufyan memiliki pengaruh besar. Ia sering membuat syair yang menghina Nabi dan mengejek ajaran Islam.
Karena itu, banyak orang Quraisy yang makin berani menolak ajaran Rasulullah SAW. Tak hanya itu, Abu Sufyan juga ikut terlibat dalam beberapa peperangan yang memusuhi kaum Muslimin. Ia benar-benar menjadi sosok yang sangat menentang Islam di masa awal dakwah.
Namun, semua kebencian itu akhirnya sirna ketika Allah memberikan cahaya hidayah ke dalam hatinya.
Setelah lebih dari dua puluh tahun hidup dalam permusuhan, hati Abu Sufyan mulai tersentuh oleh kebenaran. Ia menyadari kesalahannya dan ingin memperbaiki diri. Karena itu, bersama putranya, Ja’far, ia berangkat ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW dan memohon ampun.
Saat bertemu, Abu Sufyan merendahkan diri di hadapan Rasulullah. Meskipun begitu, Nabi sempat berpaling dan enggan menerimanya. Ia mencoba berulang kali, tetapi Nabi tetap menolak. Meski begitu, Abu Sufyan tidak putus asa. Ia terus menunjukkan ketulusannya dan memohon ampun kepada Allah.
Akhirnya, Allah menggerakkan hati Rasulullah SAW untuk memaafkannya. Nabi pun bersabda,
“Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan.”
Sejak saat itu, Abu Sufyan belajar wudhu dan shalat. Ia memutuskan untuk mengabdikan seluruh hidupnya kepada Islam dan menebus masa lalunya dengan amal dan perjuangan.
Setelah masuk Islam, Abu Sufyan bin Al-Harits menjadi pejuang yang tangguh dan setia. Dalam setiap peperangan, ia selalu berada di sisi Rasulullah SAW.
Pada Perang Hunain, keberaniannya begitu luar biasa. Dengan tangan kirinya, ia memegang tali kendali kuda Rasulullah, sementara tangan kanannya menghunus pedang untuk melindungi beliau. Ia tidak bergeser sedikit pun dari sisi Nabi hingga perang berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin.
Melihat kesetiaannya, Rasulullah SAW bertanya,
“Siapa orang ini yang tidak meninggalkanku sedetik pun?”
Seseorang menjawab, “Itu Abu Sufyan bin Al-Harits.”
Rasulullah kemudian bersabda,
“Aku ridha padanya, dan Allah telah mengampuni dosa-dosanya.”
Sejak itu, Abu Sufyan hidup dengan penuh rasa syukur. Ia memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, dan menjauhi gemerlap dunia.
Setelah bertahun-tahun berjuang di jalan Allah, Abu Sufyan memilih hidup sederhana. Ia sering terlihat di masjid, selalu menjadi orang pertama yang datang dan terakhir yang keluar.
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Aisyah RA,
“Lihatlah anak pamanku, Abu Sufyan bin Al-Harits. Ia yang pertama masuk masjid dan terakhir keluar. Pandangannya selalu tertuju ke tempat sujud. Dialah pemimpin para pemuda di surga.”
Sementara itu, pada masa Khalifah Umar bin Khathab RA, Abu Sufyan merasa ajalnya semakin dekat. Ia bahkan menggali kuburnya sendiri. Tiga hari kemudian, ia wafat dengan tenang.
Sebelum meninggal, ia berpesan kepada keluarganya,
“Jangan tangisi aku. Demi Allah, sejak aku masuk Islam, aku tidak pernah berbuat dosa lagi.”
Khalifah Umar bin Khathab pun menyalatkan jenazahnya dengan air mata duka, melepas kepergian salah satu sahabat terbaik Rasulullah SAW.
Kisah hidup Abu Sufyan bin Al-Harits memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk dibukakan oleh hidayah Allah.
Dari seorang musuh Rasulullah, ia berubah menjadi pembela Islam yang setia.
Karena itu, setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama ia mau bertaubat dengan tulus.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa taubat yang sungguh-sungguh dapat menghapus masa lalu, dan bahwa Allah selalu membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya.
(ES)











