Home / Khasanah

Minggu, 4 Januari 2026 - 01:00 WIB

Hujan dalam Islam Rahmat Allah dan Waktu Mustajab

Hujan menjadi rahmat Allah SWT yang menghidupkan bumi sekaligus waktu mustajab bagi umat Islam untuk memanjatkan doa.

Hujan menjadi rahmat Allah SWT yang menghidupkan bumi sekaligus waktu mustajab bagi umat Islam untuk memanjatkan doa.

Jakarta, iNBrita.com Allah SWT menurunkan hujan sebagai salah satu nikmat terbesar bagi seluruh makhluk di bumi. Melalui air, Allah menghidupkan manusia, hewan, dan tumbuhan, sekaligus menjaga keseimbangan seluruh ekosistem. Oleh karena itu, tanpa air, kehidupan di muka bumi tidak akan mampu bertahan.

Dalam pandangan Islam, hujan tidak hanya dipahami sebagai peristiwa alam semata. Sebaliknya, Allah menjadikannya sebagai rahmat, bukti kekuasaan-Nya, serta sarana bagi manusia untuk merenungkan dan menguatkan keimanan.

Air dan Hujan Menjadi Sumber Kehidupan

Pertama, Allah SWT menegaskan peran penting air dalam kehidupan melalui Al-Qur’an. Dalam hal ini, surat An-Nahl ayat 10 menjelaskan bahwa Allah sendiri yang menurunkan hujan sebagai penopang kehidupan:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ

Artinya: “Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu.” (QS. An-Nahl: 10)

Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa hujan secara langsung memenuhi kebutuhan dasar manusia. Selain itu, hujan juga menghidupkan pertanian dan menyediakan pakan bagi ternak.

Allah Menurunkan Hujan sebagai Rahmat

Selanjutnya, Allah SWT menurunkan hujan sebagai bentuk kasih sayang dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Menurut penjelasan Dr. Abdul Ghoni, S.Ag dalam Islamic Wisdom, hujan sering kali hadir sebagai jawaban atas harapan manusia, khususnya ketika mereka berada dalam kesulitan.

Baca juga :   Bank Indonesia Umumkan Daftar Uang Rupiah yang Dicabut Resmi

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

Artinya: “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28)

Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu hadir memberikan pertolongan melalui hujan ketika manusia membutuhkannya.

Rasulullah SAW Mengajarkan Doa Saat Hujan

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan adab ketika hujan turun. Saat hujan datang, beliau menganjurkan umat Islam untuk bersyukur dan berdoa. Rasulullah SAW mengajarkan doa sederhana namun penuh makna:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
(Allahumma shayyiban nafi’an)

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.” (HR. Bukhari)

Melalui doa ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam perlu memohon agar hujan membawa kebaikan serta dijauhkan dari dampak buruk dan kerusakan.

Allah Menjadikan Hujan sebagai Waktu Mustajab Berdoa

Lebih dari itu, Islam memuliakan waktu turunnya hujan sebagai momen istimewa untuk berdoa. Dalam hal ini, Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm meriwayatkan hadis mursal, Rasulullah SAW bersabda:

“Carilah oleh kalian doa yang dikabulkan: ketika dua pasukan bertemu, ketika salat diiqamahkan, dan ketika hujan turun.”

Selain hadis tersebut, Rasulullah SAW juga bersabda:

Baca juga :   Persiapan CPNS 2026 Dimulai Formasi Resmi Diajukan

“Dua doa yang tidak pernah ditolak, yaitu doa pada waktu azan dan doa pada waktu hujan.”
(HR. Hakim, disahihkan oleh Adz-Dzahabi 1/113–114)

Oleh sebab itu, hadis-hadis ini menegaskan bahwa Allah membuka pintu pengabulan doa saat hujan turun.

Al-Qur’an Menjelaskan Proses Terjadinya Hujan

Di sisi lain, para ilmuwan menjelaskan bahwa hujan terjadi melalui proses penguapan air laut, pembentukan awan, dan presipitasi. Sebagaimana dijelaskan Hafidz Muftisany dalam Ensiklopedia Islam, panas matahari memicu siklus air yang berlangsung secara terus-menerus.

Menariknya, Al-Qur’an telah menjelaskan proses tersebut jauh sebelum sains modern mengenalnya. Allah SWT berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ

Artinya: “Allahlah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Allah membentangkannya di langit menurut kehendak-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Allah menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, mereka pun bergembira.” (QS. Ar-Rum: 48)

Akhirnya, ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengatur setiap tahapan hujan dengan sempurna, sekaligus menegaskan kemukjizatan Al-Qur’an yang melampaui zaman.

(Ven*)

Berita ini 30 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Bulan sabit menandai 1 Rajab 1447 H pada 21 Desember 2025

Khasanah

1 Rajab 1447 H Jatuh 21 Desember 2025
Muslim membaca doa malam Isra Miraj 27 Rajab

Khasanah

Doa Malam Isra Miraj 27 Rajab dan Amalan
Pria sedang berdoa di halaman masjid dengan kubah dan menara menjulang di latar belakang.

Khasanah

Waktu Terbaik dan Keutamaan Sholat Dhuha
Jemaah haji mengenakan ihram putih saat wukuf di Padang Arafah, berdoa dan berzikir pada puncak ibadah haji.

Khasanah

Wukuf Arafah 2026 Jadi Puncak Ibadah Haji
Seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan khusyuk saat fajar menyingsing.

Khasanah

Keutamaan dan Waktu Terbaik Membaca Ayat Kursi
Musafir menentukan arah kiblat menggunakan kompas di perjalanan

Khasanah

Cara Menentukan Kiblat Saat Safar Bagi Muslim

Daerah

Kodim 0417 Kerinci Menggelar Kegiatan Bakti Sosial di Panti Asuhan

Khasanah

Kota Sungai Penuh Raih Anugerah Kota Layak Anak