Tagatose, Gula Alami Rendah Kalori Ramah Gula Darah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 23 Januari 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gula pasir yang umum digunakan sebagai pemanis, kini dibandingkan dengan alternatif rendah kalori seperti tagatose.

Ilustrasi gula pasir yang umum digunakan sebagai pemanis, kini dibandingkan dengan alternatif rendah kalori seperti tagatose.

Jakarta, iNBrita.com — Para ilmuwan menemukan gula alami bernama tagatose yang rasanya hampir semanis gula meja, tetapi mengandung kalori lebih rendah dan tidak memicu lonjakan insulin. Temuan ini memberi harapan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap konsumsi gula dan pemanis buatan.

Peneliti dari Tufts University, Amerika Serikat, mempublikasikan penelitian ini dalam jurnal Cell Reports Physical Science. Mereka menilai tagatose berpotensi menjadi alternatif gula yang lebih sehat.

Apa itu tagatose?

Tagatose merupakan gula alami langka yang masih satu kelompok dengan fruktosa. Tingkat kemanisannya mencapai sekitar 92 persen dari gula meja. Meski hampir sama manisnya, tagatose hanya mengandung sekitar sepertiga kalori sukrosa. Inilah yang membuatnya menarik sebagai pengganti gula.

Selain itu, tagatose tidak menyebabkan lonjakan insulin yang besar. Tubuh merespons gula darah secara lebih stabil setelah mengonsumsinya.

Cara kerja tagatose di dalam tubuh

Mengutip ScienceAlert, tubuh tidak menyerap sebagian besar tagatose di usus halus. Sebaliknya, usus besar memfermentasi gula ini sehingga kenaikan gula darah terjadi lebih lambat. Mekanisme ini berbeda dengan sukrosa dan beberapa pemanis buatan yang sering memicu lonjakan insulin tajam.

Karena itu, para ahli menilai tagatose lebih aman bagi penderita diabetes atau orang dengan gangguan kadar gula darah.

Tantangan produksi yang kini teratasi

Para ilmuwan sebenarnya telah lama mengenal tagatose. Namun, produsen kesulitan memproduksinya secara massal karena biaya tinggi dan proses yang tidak efisien.

Insinyur biologi Tufts University, Nikhil U. Nair, menjelaskan bahwa metode lama menghasilkan tagatose dalam jumlah kecil dengan biaya mahal. Dalam riset terbaru, timnya menggunakan enzim dari jamur lendir dan merekayasa bakteri Escherichia coli sebagai pabrik mikro penghasil tagatose.

Metode baru ini meningkatkan tingkat keberhasilan produksi hingga 95 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan cara sebelumnya.

Dampak bagi kesehatan gigi dan pencernaan

Tagatose juga mendukung kesehatan gigi. Berbeda dengan gula meja, gula ini tidak membantu pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang. Beberapa penelitian awal bahkan menunjukkan manfaat bagi mikrobioma mulut, meski para peneliti masih perlu mengkaji hal tersebut lebih lanjut.

Lembaga FDA dan WHO telah menyatakan tagatose aman untuk dikonsumsi. Namun, orang dengan intoleransi fruktosa tetap perlu berhati-hati karena tubuh memetabolisme tagatose dengan cara yang mirip fruktosa.

Bukan solusi tunggal

Para peneliti menegaskan bahwa tagatose bukan solusi instan dan tidak membenarkan konsumsi makanan manis secara berlebihan. Meski begitu, temuan ini membuka peluang baru dalam upaya mengurangi dampak buruk gula.

Tagatose dapat menjadi alternatif yang lebih masuk akal di tengah meningkatnya kasus diabetes dan gangguan metabolik. Melalui pendekatan ilmiah, para peneliti menunjukkan bahwa masyarakat masih bisa menikmati rasa manis tanpa mengorbankan kesehatan.

(Ven*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BPJS Kesehatan Benarkah Diganti Klinik Koperasi Merah Putih?
Menkes Pakai Oksigen, Kemenkes Ungkap Kejadian Sebenarnya
Vitamin Anak Palsu Berbahaya, Kenali Risiko Penanganannya
Jarak Pandang Sungai Penuh Menurun, BMKG Imbau Waspada
Polusi Udara Ancam Kesehatan, Kenali Risiko dan Pencegahannya
SMA 1 Solsel Perpanjang PJJ Akibat Kabut Asap, Ini Jadwalnya
Kabut Asap Picu Lonjakan Kasus ISPA di Padang
Sarapan Sehat Bantu Tubuh Bugar Sepanjang Hari
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:00 WIB

BPJS Kesehatan Benarkah Diganti Klinik Koperasi Merah Putih?

Senin, 26 Oktober 2026 - 03:00 WIB

Menkes Pakai Oksigen, Kemenkes Ungkap Kejadian Sebenarnya

Jumat, 23 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Vitamin Anak Palsu Berbahaya, Kenali Risiko Penanganannya

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Jarak Pandang Sungai Penuh Menurun, BMKG Imbau Waspada

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Polusi Udara Ancam Kesehatan, Kenali Risiko dan Pencegahannya

Berita Terbaru

Harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 kompak naik di Pegadaian.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Pegadaian Naik, Antam Tembus Rp 2,56 Juta

Senin, 2 Nov 2026 - 14:00 WIB

Rupiah melemah ke level Rp18.149 per dolar AS di tengah tekanan pasar global.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Rupiah Melemah, Investor Menanti Data Ekonomi Domestik

Senin, 2 Nov 2026 - 13:00 WIB

Harga perak Antam menguat Rp 450 per gram seiring kenaikan harga perak dunia.(Foto : Ilustrasi perak-silver by AI)

Ekonomi

Harga Perak Antam Naik, Perak Dunia Mendekati US$ 50

Senin, 2 Nov 2026 - 12:00 WIB

 Ilustrasi emas batangan di tengah tekanan harga emas dunia.(Foto: DAVID GRAY | AFP)

Ekonomi

Harga Emas Tertekan, Analis Wall Street Prediksi Melemah

Senin, 2 Nov 2026 - 11:00 WIB

Harga emas Pegadaian Galeri 24, Antam, UBS, dan Antam Mulia Retro 2 November 2026.(Foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Ekonomi

Harga Emas Pegadaian Hari Ini, Antam Masih Stagnan

Senin, 2 Nov 2026 - 10:00 WIB