Jakarta, iNBrita.com — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengakui bahwa fenomena fear of missing out (FOMO) dan praktik percaloan mendorong lonjakan harga emas hingga 150 persen di pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Tren Kenaikan Harga Emas Jangka Panjang
Direktur Komersial Antam, Handi Sutanto, menjelaskan bahwa harga emas sebenarnya sudah mengalami kenaikan dalam tren jangka panjang. Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik sekitar 150 persen. Sementara dalam dua tahun terakhir, kenaikannya mencapai sekitar 50 persen.
“Kalau kita lihat lima tahun terakhir, harga emas naik kurang lebih 150 persen. Tren ini mulai menguat sejak periode Covid. Dalam dua tahun terakhir, kenaikannya juga signifikan, sekitar 50 persen,” ujar Handi dalam News Hour CNN TV, Jumat (10/4).
FOMO dan Spekulasi Dorong Permintaan
Handi menilai narasi yang menyebut harga emas Antam “digoreng” tidak sepenuhnya benar. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan kombinasi antara meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi dan perilaku FOMO.
Ia menyebut banyak masyarakat membeli emas secara agresif karena takut ketinggalan momentum kenaikan harga. Perilaku ini kemudian memicu unsur spekulasi di pasar.
Perbedaan Harga Pasar Primer dan Sekunder
Handi menegaskan bahwa Antam hanya mengendalikan harga di pasar primer, yaitu harga resmi yang perusahaan umumkan setiap hari melalui situs resmi. Sementara itu, pihak lain menentukan harga di pasar sekunder di bawah pengawasan Kementerian Perdagangan.
Waspadai Selisih Harga dan Praktik Percaloan
Karena itu, Handi mengingatkan masyarakat agar tidak membeli emas jika selisih harga dengan harga resmi Antam terlalu tinggi. Ia menilai selisih harga sebesar 10 hingga 30 persen sebagai indikasi kuat adanya praktik percaloan.
“Kami selalu mengedukasi masyarakat agar tidak FOMO. Jika selisih harga dengan harga resmi mencapai 10, 20, hingga 30 persen, sebaiknya tidak perlu membeli. Lebih baik menunggu harga yang wajar karena itu jelas praktik percaloan yang harus kita lawan bersama,” tegasnya.
Pergerakan Harga Ikuti Pasar Global
Di sisi lain, Handi memastikan bahwa pergerakan harga emas Antam hampir sepenuhnya mengikuti harga emas dunia. Ia menyebut sekitar 99,99 persen pergerakan harga menunjukkan korelasi yang kuat.
Namun, ia juga mengakui bahwa kondisi tertentu dapat memicu volatilitas tinggi dalam jangka pendek, seperti saat periode Lebaran.
Emas Cocok untuk Investasi Jangka Panjang
Menurutnya, emas tetap menjadi instrumen investasi jangka menengah hingga panjang. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam merespons sentimen jangka pendek agar tidak salah mengambil keputusan.
(VVR*)














