Jakarta, iNBrita.com – Bank Indonesia (BI) menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian global. Tekanan tersebut mendorong dolar AS menembus level Rp17.300 per US$ dalam perdagangan terbaru.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pergerakan rupiah masih mengikuti tren mata uang di kawasan Asia. Ia menyebut rupiah telah melemah sekitar 3,54 persen sejak awal tahun (year-to-date) karena tekanan eksternal yang terus berlanjut.
BI terus memperkuat respons kebijakan dengan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan. Bank sentral secara aktif melakukan intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), serta di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar dan likuiditas.
Destry menekankan bahwa BI memperkuat kebijakan moneter dengan menyesuaikan struktur suku bunga agar lebih pro-market. Melalui langkah ini, BI berupaya menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah meningkatnya risiko global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.
Di sisi fundamental, BI memastikan cadangan devisa Indonesia tetap kuat. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa mencapai US$148,2 miliar. Posisi tersebut mampu mendukung stabilitas sistem keuangan, membiayai kebutuhan impor, serta memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar dan mengambil langkah kebijakan secara konsisten dan terukur. Bank sentral berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meminimalkan dampak gejolak global terhadap perekonomian nasional.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS sempat bergerak di kisaran Rp17.200 sebelum kembali menguat. Pada pukul 09.35 WIB, dolar AS berada di level Rp17.310, lalu naik sekitar 0,70 persen menjadi Rp17.302 pada pukul 10.15 WIB.
(VVR*)














