Jakarta, iNBrita.com — Baterai merupakan komponen utama pada mobil hybrid maupun kendaraan listrik (EV). Komponen ini tidak hanya menyuplai tenaga, tetapi juga menjadi bagian yang biaya penggantiannya cukup mahal. Karena itu, pemilik kendaraan perlu menjaga kondisi baterai agar tetap optimal dan berumur panjang. Namun, banyak pengguna tanpa sadar melakukan kebiasaan yang justru mempercepat penurunan performa baterai.
Kebiasaan buruk yang mempercepat kerusakan
Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, menyatakan bahwa baterai mobil hybrid dan EV cepat rusak karena pemiliknya tidak melakukan perawatan rutin. Ia menegaskan bahwa kebiasaan mengabaikan perawatan membuat usia baterai menjadi lebih pendek.
Banyak pemilik kendaraan menganggap baterai tidak perlu diperiksa selama mobil masih berfungsi normal. Padahal, pemilik perlu melakukan pengecekan rutin untuk memastikan kondisi sel baterai, sistem pendingin, serta komponen pendukung lainnya tetap bekerja dengan baik. Dengan perawatan yang tepat, teknisi dapat mendeteksi potensi kerusakan lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah besar.
Kebiasaan sering tes akselerasi
Selain kurang perawatan, Yogig juga menjelaskan bahwa sebagian pengguna sering menguji performa mobil dengan melakukan akselerasi penuh. Ia mencontohkan kebiasaan pengemudi yang ingin mengetahui seberapa cepat mobil dapat mencapai kecepatan 100 km/jam dari kondisi diam.
Saat pengemudi melakukan akselerasi penuh, baterai mengalirkan daya besar untuk menggerakkan motor listrik. Kondisi ini menyebabkan tegangan baterai turun sementara. Namun, setelah pengemudi melepas pedal gas, tegangan baterai kembali normal.
Yogig menjelaskan bahwa penurunan voltase saat akselerasi merupakan hal wajar karena baterai sedang bekerja keras mengeluarkan arus besar. Setelah beban berkurang, voltase kembali naik ke kondisi stabil.
Risiko saat baterai hampir habis
Yogig menambahkan bahwa kondisi berbahaya dapat terjadi jika pengemudi terus melakukan akselerasi saat baterai hampir habis. Jika kapasitas baterai berada di sekitar 20 persen lalu terus dipaksa bekerja keras, salah satu sel baterai dapat mencapai batas minimum.
Jika hal ini terjadi, sistem Battery Management System (BMS) akan memutus aliran listrik untuk melindungi baterai dari kerusakan. Akibatnya, mobil bisa mati total sebagai bentuk perlindungan sistem.
Namun, Yogig menegaskan bahwa akselerasi penuh dalam waktu singkat tidak memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan baterai.
(VVR*)









