Jakarta, iNBrita.com — Di Indonesia, para hijabers sudah sangat mengenal Vanilla Hijab. Brand ini menghadirkan ciri khas berupa warna pastel lembut, sentuhan feminin, dan motif floral yang anggun. Tak heran, Vanilla Hijab berhasil merebut hati para pecinta modest fashion.
Namun, Atina Maulina sebagai founder dan Intan Kusuma Fauzia sebagai CEO tidak memulai Vanilla Hijab dari rencana bisnis besar. Mereka justru membangun brand ini dari situasi penuh ketidakpastian.
Melalui program Kartini di Cartini, Wolipop mengangkat kisah inspiratif Intan Kusuma Fauzia. Ia menceritakan bagaimana Vanilla Hijab tumbuh hingga memiliki lebih dari 2,6 juta pengikut di Instagram.
Berawal dari Ujian Hidup
Perjalanan ini bermula dari ujian berat yang dialami Atina. Saat masih kuliah di jurusan Teknik Perminyakan ITB, kondisi kesehatannya memaksanya menjalani pengobatan intensif di Jakarta. Ia pun harus menunda kuliah dan meninggalkan Bandung.
Dalam situasi tersebut, Atina mulai memikirkan langkah baru. Ia berdiskusi dengan Intan tentang peluang usaha. Melihat tren hijab yang sedang naik pada 2013 dan perkembangan media sosial saat itu, mereka memutuskan untuk mulai berjualan hijab.
Belajar Bisnis dari Nol
Di awal perjalanan, mereka menjalankan semuanya sendiri. Mereka mencari bahan ke Pasar Mayestik, memotret produk untuk sistem pre-order, hingga belajar menjahit dari nol dengan bantuan penjahit lokal.
Mereka juga menjalani rutinitas yang sangat disiplin. Setiap pagi, mereka membalas pesan pelanggan dan menyiapkan paket sejak pukul 06.00 WIB sebelum berangkat kuliah. Sepulang kuliah, mereka kembali melanjutkan proses packing hingga malam hari.
Saat mulai memproduksi hijab sendiri, mereka bekerja sama dengan penjahit di dekat rumah yang sebelumnya hanya menerima permak jeans. Bersama-sama, mereka belajar membuat hijab melalui tutorial YouTube dan berbagai referensi lain.
Titik Balik dan Perkembangan Usaha
Titik balik Vanilla Hijab terjadi ketika permintaan pasar terus meningkat. Pada 2016, mereka memutuskan untuk memproduksi hijab secara mandiri agar dapat menjaga kualitas produk.
Seiring waktu, mereka mulai merekrut penjahit khusus dan membangun konveksi sendiri. Mereka bahkan membantu mengembangkan penjahit awal mereka hingga mampu memproduksi lebih banyak koleksi. Dari yang awalnya hanya tiga orang, tim mereka terus berkembang.
Para penjahit kemudian mulai berinovasi menciptakan koleksi busana baru. Hasilnya, produk tersebut langsung mendapat sambutan hangat dan sering kali habis terjual saat peluncuran.
Strategi Bertahan: Komunitas dan Kualitas
Di tengah persaingan brand lokal yang semakin ketat, Vanilla Hijab tidak hanya fokus pada penjualan. Intan dan tim membangun bisnis berbasis komunitas. Mereka percaya bahwa menjaga hubungan dengan pelanggan lebih penting daripada sekadar mengejar transaksi.
Melalui komunitas Sister Vanilla yang tersebar di 17 kota, mereka menghubungkan para pelanggan dalam berbagai kegiatan positif, seperti kajian, arisan, hingga playdate anak.
Komitmen pada Kebermanfaatan
Selain itu, mereka juga menjaga nilai kebermanfaatan dalam setiap aktivitas bisnis. Lewat program Shopping Charity, mereka menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk kegiatan sosial, termasuk mendukung sekolah tahfidz di Papua.
Vanilla Hijab membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk berkembang. Dengan ketekunan, kemauan belajar, dan komitmen untuk memberi manfaat, mereka berhasil mengubah usaha yang bermula tanpa rencana menjadi brand yang menginspirasi banyak orang.
(VVR*)









