Jakarta, iNBrita.com — Suasana Toko yang Hangat dan Akrab Rak-rak tinggi berisi tempat minum, tempat makan, hingga barang pecah belah memenuhi ruang display Alfiandra Wedding Souvenir di Cipinang, Jakarta Timur. Saat melangkah masuk, pengunjung langsung melihat beragam produk tersusun rapi di setiap sudut: mangkuk keramik, gelas kaca, piring, wadah parfum, pigura, hingga teko dengan berbagai bentuk dan warna. Tumpukan tas goodie bag dan dompet juga mengisi ruangan luas tersebut, sementara sejumlah pegawai sibuk mengemas pesanan yang siap dikirim.
Di ujung ruangan yang menyerupai labirin, Yana, pendiri Alfiandra Wedding Souvenir, menyambut dengan senyum hangat. Ia menghadirkan konsep toko yang santai dan akrab, layaknya berkunjung ke rumah saudara. “Di sini konsepnya lesehan, santai, buka sandal. Jadi rasanya bukan seperti belanja, tapi seperti main ke rumah,” ujar Yana saat ditemui, Senin (27/7/2026).
Berawal dari Modal Kecil
Yana memulai usaha ini pada 1998 dengan modal Rp 7 juta. Setelah hampir tiga dekade, ia berhasil mengembangkan Alfiandra menjadi produsen suvenir pernikahan yang dikenal luas dan mempekerjakan lebih dari 50 orang. Ia tidak menjadikan ijazah sebagai syarat utama dalam merekrut karyawan. Sebaliknya, ia mengutamakan kejujuran dan kemauan bekerja keras. “Saya tidak lihat ijazah. Saya tanya, siap jujur dan kerja keras atau tidak. Kalau siap, silakan bergabung,” jelasnya.
Selama hampir 30 tahun menjalankan usaha, Yana menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan tren, pergeseran selera konsumen, dampak pandemi Covid-19, hingga persaingan yang semakin ketat. Namun, ia mampu mempertahankan usahanya dengan memegang sejumlah prinsip utama.
Inovasi Tanpa Henti
Yana terus mendorong inovasi agar produknya selalu relevan dengan tren. Ia dan tim rutin menciptakan desain baru setiap tahun. Ia menyadari bahwa pelanggan tidak ingin menerima suvenir yang sama di berbagai acara pernikahan. Karena itu, ia mengembangkan model, bahan, dan desain secara berkelanjutan. Bahkan, ia sengaja menghentikan produksi beberapa produk selama beberapa tahun sebelum menghadirkannya kembali dengan tampilan baru.
Ia merasa lebih bangga saat produknya menjadi tren karena hasil kreativitas sendiri, bukan hasil meniru.
Pelayanan Jadi Prioritas
Selain inovasi, ia juga menempatkan pelayanan sebagai prioritas utama. Ia membangun kepercayaan pelanggan dengan memberikan kemudahan dalam penanganan komplain. Pelanggan dapat langsung menukar produk rusak tanpa prosedur rumit.
“Kalau ada barang rusak, langsung bawa ke sini dan tukar. Kami tidak pernah menyalahkan pelanggan. Bagi kami mungkin jumlahnya kecil, tapi bagi calon pengantin itu penting,” ungkapnya.
Yana juga kerap membantu pelanggan yang mengalami masalah dengan vendor lain, bahkan untuk pesanan mendadak. Ia mampu melakukannya karena mengelola hampir seluruh proses produksi secara mandiri, mulai dari laser, sablon, hingga pengemasan dan percetakan.
Dukungan Pembiayaan untuk Berkembang
Dalam mengembangkan usaha, Yana memanfaatkan dukungan pembiayaan dari PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI). Ia menilai pihak bank mudah diajak berkomunikasi dan cepat merespons kebutuhan pelaku usaha. Pengalaman tersebut membuatnya merekomendasikan BSI kepada pelaku UMKM lain yang membutuhkan tambahan modal.
Kunci Sukses: Keyakinan dan Keberanian
Menutup perbincangan, Yana menegaskan bahwa keberhasilan bisnis tidak semata ditentukan oleh besar kecilnya modal. Ia menekankan pentingnya keberanian memulai, keyakinan, dan kemauan belajar. Ia juga mengingatkan para pemula untuk tidak takut gagal sebelum mencoba.
Menurutnya, keraguan justru menjadi penghambat terbesar dalam memulai usaha. Karena itu, ia mendorong calon pengusaha untuk menanamkan optimisme sejak awal. “Bisnis tidak harus modal besar. Yang besar itu kemauan. Jangan takut melangkah dan yakinkan diri bisa berhasil. Kalau sejak awal sudah ragu, sama saja mendoakan kegagalan. Keyakinan adalah modal utama,” tegas Yana.
(VVR*)









