Jakarta, iNBrita.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan tipis pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026). Rupiah naik 10 poin atau sekitar 0,06 persen dan mencapai posisi Rp 18.073 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 18.083 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Pengaruh Sentimen Global
Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyatakan bahwa pasar mendorong penguatan rupiah melalui sikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Ia menjelaskan bahwa investor masih menaruh perhatian besar pada hasil rapat tersebut. Menjelang pengumuman, pelaku pasar cenderung menahan diri dalam mengambil posisi. Sikap ini menyebabkan indeks dolar AS (DXY) melemah dan memberi peluang bagi rupiah untuk menguat.
Kondisi global tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak naik, meskipun pelaku pasar tetap menunggu kepastian arah kebijakan moneter dari The Fed. Ketidakpastian ini membuat pergerakan rupiah masih terbatas dan belum menunjukkan penguatan signifikan.
Faktor Domestik
Dari dalam negeri, pasar terus memantau proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Investor menilai penunjukan Gubernur BI yang baru akan sangat menentukan arah kebijakan moneter nasional ke depan. Meski menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia tetap mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia secara aktif memperkuat bauran kebijakan moneter melalui penyesuaian suku bunga dan berbagai instrumen lainnya. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 basis poin secara kumulatif untuk menjaga kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Ke depan, analis memproyeksikan rupiah akan bergerak stabil dalam kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS. Pelemahan indeks dolar AS berpotensi menopang rupiah dalam jangka pendek. Namun, pelaku pasar akan tetap mencermati hasil rapat Federal Reserve serta perkembangan penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru.
Pergerakan JISDOR
Sejalan dengan pasar spot, Bank Indonesia juga mencatat penguatan pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Nilai JISDOR bergerak ke sekitar Rp 18.087 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 18.088 per dolar AS, yang semakin menegaskan tren penguatan rupiah secara terbatas.
(VVR*)









