Jakarta, iNBrita.com – Jemaah haji Indonesia perlu mewaspadai pneumonia selama menjalankan ibadah di Arab Saudi. Infeksi paru-paru ini menjadi salah satu masalah kesehatan serius yang dapat membuat jemaah menjalani perawatan di rumah sakit.
Dokter Keluarga Kimia Farma Group, dr. Meidi Nursasih, mengungkapkan bahwa pneumonia termasuk kasus yang banyak ditangani Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Arab Saudi. Kasus tersebut juga turut menyumbang angka kematian jemaah haji.
Lansia Lebih Rentan Mengalami Pneumonia
Dr. Meidi menjelaskan bahwa usia lanjut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko pneumonia. Panjangnya masa tunggu keberangkatan membuat banyak calon jemaah memasuki usia lansia ketika akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci.
Kondisi tersebut semakin meningkatkan risiko ketika jemaah memiliki penyakit penyerta. Diabetes, hipertensi, dan riwayat penyakit paru menjadi beberapa penyakit yang dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah.
Selain faktor usia dan penyakit penyerta, perubahan lingkungan juga dapat memengaruhi kesehatan pernapasan jemaah. Arab Saudi memiliki kondisi udara yang berbeda dengan Indonesia. Tingkat kelembapan udara di sana dapat turun hingga sekitar 9 persen, sedangkan Indonesia memiliki kelembapan yang jauh lebih tinggi.
Udara yang sangat kering dapat mengiritasi saluran pernapasan. Jemaah juga menghadapi aktivitas fisik yang padat, kelelahan, perjalanan jauh, serta perubahan pola tidur yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Jemaah Perlu Memeriksakan Kesehatan Lebih Awal
Dr. Meidi mengingatkan calon jemaah agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan sejak jauh hari membantu tenaga kesehatan menemukan penyakit dan menangani faktor risiko sebelum jemaah berangkat.
Calon jemaah dapat memulai pemeriksaan melalui Puskesmas sekitar enam bulan sebelum keberangkatan. Setelah itu, jemaah menjalani pemeriksaan lanjutan melalui Dinas Kesehatan hingga pemeriksaan di asrama haji.
Pemeriksaan di Puskesmas membantu petugas menentukan status istithaah kesehatan calon jemaah. Hasil pemeriksaan tersebut juga memungkinkan tenaga medis memberikan penanganan lebih awal jika menemukan masalah kesehatan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Subsp.PTI (K), FINASIM, turut menganjurkan calon jemaah haji dan umrah melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
Calon jemaah sebaiknya menjalani pemeriksaan fisik, rontgen paru, dan pemeriksaan laboratorium sekitar dua hingga tiga bulan sebelum berangkat ke Arab Saudi.
Lindungi Paru Selama Beribadah
Jemaah haji menghadapi risiko penularan penyakit pernapasan karena jutaan orang dari berbagai negara berkumpul di lokasi yang sama. Kondisi kerumunan yang padat membuat jemaah perlu meningkatkan perlindungan diri.
Dr. Joyce menganjurkan beberapa langkah untuk menjaga kesehatan paru selama berada di Tanah Suci.
Pertama, kendalikan penyakit penyerta. Jemaah perlu memastikan diabetes, hipertensi, maupun penyakit lain tetap terkontrol sebelum berangkat.
Kedua, gunakan masker saat berada di kerumunan. Masker medis dapat membantu mengurangi paparan terhadap partikel pernapasan ketika jemaah berada di tempat yang ramai.
Ketiga, bersihkan tangan secara rutin. Jemaah dapat mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer ketika fasilitas cuci tangan tidak tersedia.
Keempat, lengkapi vaksinasi yang dianjurkan. Jemaah dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai vaksinasi yang sesuai, termasuk vaksin influenza dan pneumokokus.
Persiapan kesehatan sejak jauh hari membantu jemaah menghadapi perjalanan dan aktivitas ibadah dengan lebih aman. Dengan mengendalikan penyakit penyerta, menjaga kebersihan, menggunakan masker, serta mengikuti anjuran vaksinasi, jemaah dapat mengurangi berbagai risiko infeksi selama berada di Arab Saudi.
(eny)









