Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10/2026). Analis menilai, rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mendorong penguatan rupiah.
Mengutip Antara, rupiah menguat 31 poin atau 0,07% ke level Rp18.015 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp18.046 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai langkah pemerintah untuk mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG dapat meningkatkan sentimen positif di pasar keuangan domestik.
“Rupiah walau masih penuh ketidakpastian, namun langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham HSC dari IHSG diharapkan bisa memberikan sentimen positif dan dukungan pada ekuitas domestik rupiah,” ujar Lukman.
BEI Siapkan Kebijakan untuk 80 Saham HSC
Saat ini, BEI mencatat 80 saham masuk kategori HSC. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa seluruh saham tersebut memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. Secara keseluruhan, saham HSC menyumbang bobot sekitar 18% terhadap IHSG.
Jeffrey menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan menghapus pencatatan saham HSC dari BEI. Investor tetap dapat memperdagangkan saham-saham tersebut di pasar modal.
Namun, pergerakan harga saham HSC tidak lagi memengaruhi pergerakan IHSG setelah BEI menerapkan kebijakan tersebut.
BEI mengambil langkah ini untuk menggambarkan kondisi pasar saham secara lebih wajar. Kebijakan tersebut juga bertujuan mengurangi dampak risiko yang muncul dari saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Harga Minyak Naik, Rupiah Masih Menghadapi Tekanan
Di sisi lain, perkembangan geopolitik global masih membayangi pergerakan rupiah. Eskalasi konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina berpotensi menekan mata uang Indonesia.
Lukman menilai kenaikan harga minyak mentah dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor energi Indonesia.
“Eskalasi Timteng dan perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan harga minyak mentah yang masih terus naik akan kembali memberikan tekanan pada rupiah,” kata Lukman.
Mengutip Xinhua, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik US$2,25 atau 2,22%. Harga WTI kemudian ditutup pada US$103,66 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sebaliknya, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 31 sen atau 0,28%. Harga Brent ditutup pada US$109,55 per barel di London ICE Futures Exchange.
Prediksi Rupiah Hari Ini
Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak di tengah tarik-menarik sentimen domestik dan global. Rencana perubahan perhitungan IHSG dapat mendukung sentimen positif di pasar keuangan Indonesia.
Namun, kenaikan harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik global berpotensi membatasi penguatan rupiah.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
(vvr*)









