Jakarta, iNBrita.com – Harga emas dan perak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu. Pada saat yang sama, dolar Amerika Serikat (AS) justru melemah. Pergerakan ini terjadi setelah hasil pemilu paruh waktu AS menunjukkan bahwa Partai Demokrat berpeluang menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
CNBC melaporkan pada Kamis (5/11/2026), harga emas di pasar spot menguat 3,4 persen ke level US$ 4.061,30 per ons. Sementara itu, harga perak spot melesat 5,1 persen hingga mencapai US$ 52,29 per ons.
Penguatan juga terjadi di pasar berjangka. Kontrak emas untuk pengiriman terdekat naik 3,4 persen dan berakhir pada US$ 4.073 per ons. Adapun kontrak perak berjangka menguat 5,1 persen menjadi US$ 52,28 per ons.
Hingga saat ini, petugas masih menghitung suara pemilu paruh waktu AS. Meski demikian, proyeksi sementara menunjukkan Partai Demokrat berhasil merebut kendali DPR. Partai tersebut juga memenangkan sejumlah pemilihan gubernur.
Meredanya risiko politik turut mendorong kenaikan saham AS. Kondisi ini juga menekan imbal hasil obligasi pemerintah. Sebaliknya, harga minyak melemah dan indeks dolar AS turun sekitar 0,3 persen.
Kemenangan Demokrat Berpotensi Mendorong Harga Emas
Kemenangan Partai Demokrat berpeluang memberikan dorongan tambahan bagi harga emas. Rhona O’Connell, Kepala Analisis Pasar EMEA dan Asia di StoneX, sebelumnya telah menyampaikan perkiraan tersebut dalam catatan pada Selasa.
O’Connell menilai penguasaan kedua kamar Kongres oleh Partai Demokrat dapat menekan suku bunga dan nilai tukar dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik emas di pasar global.
Selain itu, persaingan dalam menentukan kebijakan fiskal dapat memicu ketidakpastian. Hubungan antarlembaga pemerintahan AS juga berpotensi mengalami ketegangan.
“Persaingan dalam kebijakan fiskal dan gesekan antarlembaga, keduanya mengarah pada ketidakpastian,” ujar O’Connell.
Dia juga menyoroti perang Iran dan pelemahan dolar AS sebagai faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas. Namun, kedua faktor tersebut harus bersaing dengan kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish atau mempertahankan suku bunga tinggi.
Menurut O’Connell, pengurangan stimulus fiskal dapat menekan imbal hasil obligasi jangka panjang. Kebijakan tersebut juga berpotensi melemahkan dolar AS.
Meski begitu, pasar masih menghadapi risiko lain. Premi risiko terkait batas utang pada surat utang jangka pendek dan sikap hawkish The Fed dapat menahan penguatan harga logam mulia.
Reli Harga Emas dan Perak Masih Rentan
Emas dan perak mencatat kenaikan luar biasa sepanjang 2025. Harga emas melonjak 66 persen, sedangkan harga perak meroket hingga 135 persen.
Saat itu, banyak investor memburu logam mulia untuk melindungi nilai aset mereka. Ketidakpastian geopolitik dan gejolak pasar keuangan turut meningkatkan permintaan terhadap emas dan perak.
Namun, tren positif tersebut berbalik arah pada 2026. Kenaikan inflasi, lonjakan imbal hasil obligasi, serta sikap hawkish bank sentral mulai menekan harga kedua logam mulia tersebut.
Sejak awal tahun, harga emas telah terkoreksi lebih dari 6 persen. Pada periode yang sama, harga perak bahkan mengalami penurunan sekitar 26 persen.
Analis Pasar Senior Capital.com, Daniela Hathorn, menilai pemulihan harga emas dan perak masih menghadapi tantangan besar.
Menurut Hathorn, ketidakpastian geopolitik tidak selalu membuat investor membeli aset safe haven. Sebab, investor juga mempertimbangkan risiko kebijakan moneter ketat yang dapat menekan pasar keuangan.
Dia menjelaskan bahwa emas dan perak masih berpotensi mengalami tekanan jual ketika pasar saham terkoreksi tajam.
Dalam situasi tersebut, investor bisa menjual aset yang sebelumnya memberikan keuntungan atau memiliki likuiditas tinggi. Mereka membutuhkan dana tunai untuk menghadapi tekanan pasar dan memenuhi kebutuhan investasi.
Oleh karena itu, investor perlu mencermati perkembangan politik AS, arah kebijakan The Fed, serta pergerakan dolar AS. Ketiga faktor tersebut dapat menentukan arah pergerakan harga emas dan perak dalam perdagangan berikutnya.
(vvr*)









