Jakarta, iNBrita.com – Harga emas Pegadaian pada Rabu (4/11/2026) masih berada di atas Rp 2,4 juta per gram. Pegadaian menawarkan tiga produk logam mulia, yaitu Galeri24, Antam, dan UBS, dengan harga yang berbeda.
Berdasarkan pantauan dari laman resmi Pegadaian, emas Antam mencatat harga tertinggi. Pegadaian membanderol emas Antam ukuran 1 gram sebesar Rp 2.576.000.
Sementara itu, harga emas UBS mencapai Rp 2.519.000 per gram. Adapun Galeri24 berada di posisi berikutnya dengan harga Rp 2.463.000 per gram.
Pegadaian menyediakan ketiga produk tersebut dalam berbagai pilihan berat. Galeri24 menawarkan ukuran mulai 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram.
Di sisi lain, UBS menyediakan emas mulai 0,5 gram hingga 500 gram. Sementara itu, Antam menawarkan pilihan berat hingga 100 gram.
Perlu diketahui, Pegadaian dapat mengubah harga emas sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan pasar dan pembaruan harga.
Daftar Harga Emas Galeri24 Hari Ini
Berikut daftar harga emas Galeri24 berdasarkan berat masing-masing:
- 0,5 gram: Rp 1.292.000
- 1 gram: Rp 2.463.000
- 2 gram: Rp 4.866.000
- 5 gram: Rp 12.074.000
- 10 gram: Rp 24.084.000
- 25 gram: Rp 59.885.000
- 50 gram: Rp 119.675.000
- 100 gram: Rp 239.232.000
- 250 gram: Rp 596.611.000
- 500 gram: Rp 1.193.220.000
- 1.000 gram: Rp 2.384.438.000
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini
Emas Antam menempati posisi teratas dalam daftar harga emas Pegadaian hari ini. Berikut rincian harganya:
- 0,5 gram: Rp 1.339.000
- 1 gram: Rp 2.576.000
- 2 gram: Rp 5.090.000
- 3 gram: Rp 7.609.000
- 5 gram: Rp 12.647.000
- 10 gram: Rp 25.238.000
- 25 gram: Rp 62.968.000
- 50 gram: Rp 125.855.000
- 100 gram: Rp 251.631.000
Daftar Harga Emas UBS Hari Ini
Sementara itu, emas UBS juga mencatat harga di atas Rp 2,5 juta per gram. Berikut daftar harga jual emas UBS di Pegadaian:
- 0,5 gram: Rp 1.362.000
- 1 gram: Rp 2.519.000
- 2 gram: Rp 4.998.000
- 5 gram: Rp 12.351.000
- 10 gram: Rp 24.571.000
- 25 gram: Rp 61.306.000
- 50 gram: Rp 122.359.000
- 100 gram: Rp 244.622.000
- 250 gram: Rp 611.373.000
- 500 gram: Rp 1.221.310.000
Harga Emas Dunia Melemah Akibat Penguatan Dolar AS
Di pasar internasional, harga emas justru mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Selasa. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mendorong harga logam mulia turun.
Selain itu, investor terus memantau hasil pemilu paruh waktu AS. Mereka ingin mengetahui arah kebijakan fiskal pemerintah setelah pemilu tersebut.
Harga emas di pasar spot turun 0,5% menjadi US$ 3.927,49 per ons. Bahkan, logam mulia tersebut sempat merosot 1% hingga menyentuh level terendah sesi perdagangan di US$ 3.893,31 per ons.
Di tengah tekanan tersebut, penurunan harga minyak dunia sempat meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi. Kondisi itu sempat membuka peluang bagi harga emas untuk menguat. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan harga emas kembali melemah.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga mengalami penurunan. Harganya turun 0,8% menjadi US$ 3.936,80 per ons.
Pada perdagangan yang sama, harga minyak dunia terkoreksi sekitar 2% dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Pelaku pasar mempertimbangkan berbagai perkembangan geopolitik, termasuk upaya mengakhiri perang di Ukraina dan konflik Iran.
Selain itu, investor mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan akibat serangan dalam kedua konflik tersebut.
Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan harga emas.
“Dolar AS terus menguat, sementara imbal hasil obligasi semakin meningkat,” ujarnya seperti dikutip CNBC, Rabu (4/11/2026).
Penguatan dolar AS terjadi ketika investor menghadapi ketidakpastian mengenai kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran. Mereka juga mencermati hasil pemilu paruh waktu AS.
Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury terus bergerak naik. Kondisi ini membuat emas menghadapi tekanan karena investor mempertimbangkan instrumen lain yang menawarkan imbal hasil.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Jadi Perhatian
Di sisi lain, perubahan ekspektasi suku bunga memberikan sedikit dukungan bagi harga emas. Logam mulia ini tidak menghasilkan bunga sehingga perubahan kebijakan moneter dapat memengaruhi minat investor.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Desember mencapai 73%. Angka tersebut turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 76%.
Selain kebijakan moneter, investor juga memusatkan perhatian pada hasil pemilu paruh waktu AS.
Sejumlah lembaga survei dan analis independen memperkirakan Partai Demokrat berpeluang merebut kendali DPR dari Partai Republik. Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih berlangsung ketat dan belum menunjukkan kepastian.
Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai kemenangan besar Partai Demokrat dapat memberikan tekanan terhadap dolar AS.
Menurutnya, kemenangan tersebut berpotensi menyulitkan pemerintah dalam meloloskan sejumlah undang-undang. Salah satunya berkaitan dengan kebijakan batas utang negara.
“Jika dolar AS melemah, hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang berpotensi memberikan dukungan bagi harga emas,” ujarnya.
Sementara itu, World Gold Council (WGC) mengubah proyeksi pertumbuhan investasi emas tahun ini. Lembaga tersebut memangkas perkiraan pertumbuhan investasi emas menjadi 200 ton metrik dari proyeksi sebelumnya sebesar 400 ton.
Meski memangkas proyeksi investasi, WGC justru menaikkan estimasi pembelian emas oleh bank sentral.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasar emas masih menghadapi sejumlah faktor yang saling memengaruhi. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan harga emas dunia. Namun, perubahan ekspektasi suku bunga serta permintaan bank sentral berpotensi memberikan dukungan bagi logam mulia.
(vvr*)









