Home / Opini

Minggu, 2 November 2025 - 17:30 WIB

Anak Seorang Tukang Las Sungai Penuh Raih S2 Belanda

Hen Madura mengerjakan pesanan rak besi di bengkel las sederhana miliknya di Kota Sungai Penuh, tempat ia menafkahi dan membesarkan kedua anaknya seorang diri.

Hen Madura mengerjakan pesanan rak besi di bengkel las sederhana miliknya di Kota Sungai Penuh, tempat ia menafkahi dan membesarkan kedua anaknya seorang diri.

Sungai Penuh, Jambi , iNBrita.com — Tidak semua perjuangan butuh panggung besar untuk dikenang. Ada kisah sederhana namun luar biasa yang tumbuh di balik dentuman besi dan percikan api las di sebuah bengkel kecil di pinggiran Kota Sungai Penuh. Di sanalah Hen Madura, seorang ayah tunggal, membuktikan bahwa kekuatan cinta mampu menaklukkan kerasnya hidup.

Dua puluh tahun lalu, kehidupan Hen berubah total. Ia kehilangan istri tercinta akibat kecelakaan lalu lintas. Saat itu, anak sulungnya baru tiga tahun dan si bungsu baru tiga bulan. Dunia seolah runtuh di hadapannya. Namun, Hen memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia berdiri kembali, menatap masa depan anak-anaknya dengan tekad yang tak bisa dipatahkan.
“Saya sempat hilang arah,” ujar Hen pelan. “Tapi kalau saya jatuh, siapa yang akan menjaga anak-anak ini?”

Dalam kesunyian malam dan kesederhanaan hidup, Hen menjalani peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu. Ia bekerja sebagai sopir truk lintas pulau, menempuh jarak jauh dengan tubuh lelah dan hati penuh rindu. Tapi ia sadar, tanggung jawabnya tidak berhenti di jalanan. Ia kemudian kembali ke Sungai Penuh dan membuka bengkel las kecil di rumahnya ,  tempat di mana kehidupannya perlahan bangkit kembali.

Baca juga :   Sister Hong Lombok dan Respons Publik di Era Digital

Setiap kali Hen menyalakan api las, ia tidak hanya menyambung besi, tetapi juga menyalakan harapan. Dengan tangan yang kokoh dan hati yang sabar, ia mengerjakan setiap pesanan pagar, pintu, dan rak besi dengan penuh ketelitian. Pelanggan mengenalnya bukan hanya karena hasil lasannya yang kuat, tapi karena kejujuran dan ketulusannya dalam bekerja.
“Kalau kerja, saya niatkan buat anak-anak. Besi sekeras apa pun bisa saya taklukkan kalau ingat mereka,” katanya dengan senyum yang menyimpan seribu cerita.

Kini, hasil dari keteguhan itu terlihat nyata. Anak sulungnya menembus dunia internasional dengan melanjutkan studi S2 di Belanda, sementara anak bungsunya berhasil menjadi guru PNS di Kota Sungai Penuh. Mereka adalah bukti nyata bahwa kerja keras dan doa seorang ayah mampu mengubah nasib.

Baca juga :   Rutan Sungai Penuh Terapkan Inovasi STEREK QR Code

Hen tidak pernah mengejar kemewahan. Ia tidak hidup dari ambisi besar, melainkan dari keyakinan bahwa tanggung jawab dan keikhlasan adalah pondasi sejati kehidupan. Di usia yang menua, ia masih mengelas, masih bekerja, dan masih bersyukur. Setiap percikan api di bengkel kecilnya kini terasa seperti simbol kemenangan seorang ayah atas kerasnya takdir.

Kisah Hen Madura adalah cermin bagi banyak orang tua yang berjuang dalam diam. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang memberi dengan sepenuh hati. Bahwa cinta seorang ayah tidak mengenal batas waktu, bahkan mampu menembus jarak hingga ke negeri kincir angin.

Hen Madura membuktikan bahwa keteguhan hati, keikhlasan, dan kasih sayang jauh lebih berharga daripada harta. Ia bukan hanya mengelas besi — ia sedang membentuk masa depan, menguatkan nilai-nilai kehidupan, dan menyalakan api semangat bagi siapa pun yang pernah merasa lelah berjuang.

(ES*)

 

Berita ini 94 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Fenomena Wartawan Dadakan dan Ancaman Serius Dunia Jurnalistik

Dinamika

Memilih Setia..?

Covid-19

Malam Pergantian Tahun
Safwandi, Dpt., Sekjen LAM Kerinci, mengenakan pakaian adat, menyampaikan pernyataan tentang Mendapo. (Foto Andalas)

Opini

Mendapo Ada Sebelum Kolonial Belanda, Bukan Produk Penjajahan
Walikota Alfin dan Bupati Monadi berdampingan saat Balik Kudahin, menunjukkan harmoni Sungai Penuh dan Kerinci.

Opini

Festival Balik Kudahin Tegaskan Ikatan Kerinci Sungai Penuh
Potret Deni atau Dea Lipa, figur viral Sister Hong Lombok asal Praya Timur.

Opini

Sister Hong Lombok dan Respons Publik di Era Digital

Dinamika

Hubungan itu “Saling” bukan “Maunya”.

Opini

Ini bukan Negeri Preman