Home / Internasional

Kamis, 23 April 2026 - 17:00 WIB

AS: Pembersihan Ranjau Selat Hormuz Butuh Enam Bulan

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap berlangsung di bawah pengawasan ketat militer di tengah konflik dan ancaman ranjau laut.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap berlangsung di bawah pengawasan ketat militer di tengah konflik dan ancaman ranjau laut.

Jakarta, iNBrita.comDepartemen Pertahanan Amerika Serikat memperkirakan proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz akan memakan waktu hingga enam bulan. Kondisi ini berpotensi menahan harga minyak tetap tinggi.

Iran Blokir Jalur Vital Dunia

Iran memblokir hampir seluruh jalur air vital tersebut sejak pecahnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan ini langsung mendorong kenaikan harga minyak dan gas serta menekan perekonomian global.

Mengutip laporan Al Arabiya English pada Kamis (23/4/2026), sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melintasi selat ini. Namun, jalur tersebut kini sebagian besar masih tertutup meski gencatan senjata berlangsung rapuh, sementara Amerika Serikat tetap menjalankan blokade.

Pentagon Ungkap Tantangan Pembersihan

The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon menyampaikan penilaian tersebut kepada pejabat terkait. Pentagon menegaskan bahwa mereka kemungkinan baru akan memulai operasi pembersihan ranjau setelah perang benar-benar berakhir.

Dalam briefing tertutup kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, pejabat Pentagon menjelaskan bahwa Iran kemungkinan telah menempatkan sedikitnya 20 ranjau di Selat Hormuz dan sekitarnya.

Mereka menyebut sebagian ranjau itu dapat bergerak menggunakan teknologi GPS sehingga menyulitkan tim untuk mendeteksinya.

Iran Tetapkan Zona Bahaya

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menetapkan zona bahaya seluas sekitar 1.400 kilometer persegi—sekitar 14 kali luas Paris—yang diduga mengandung ranjau.

Ketua parlemen Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Amerika Serikat masih memberlakukan blokade angkatan laut.

Dampak ke Ekonomi dan Energi Global

Situasi ini membuat pelaku pasar energi tetap waspada. Sejumlah analis menilai ketidakpastian di kawasan Teluk memicu fluktuasi harga yang tajam dalam waktu dekat. Negara-negara importir energi mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan.

Perusahaan pelayaran global juga meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan rute distribusi untuk menghindari wilayah berisiko. Langkah ini berpotensi menambah biaya logistik sekaligus memperlambat pengiriman energi ke berbagai negara.

Jika konflik berlangsung lebih lama, tekanan terhadap ekonomi global akan semakin besar. Pemerintah di berbagai negara kini memperkuat cadangan energi dan mencari sumber alternatif guna mengurangi ketergantungan pada jalur strategis tersebut.

(VVR*)
Berita ini 1 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Bulan purnama Sturgeon Moon tampak jelas di langit malam

Internasional

Fenomena Langit Agustus 2025, Dari Purnama hingga Meteor

Internasional

Pakistan: Lukai 35 Orang ,8 Tewas Serangan Rudal India
Ilustrasi koin emas kuno menggambarkan harta karun Dvaravati di Thailand.

Internasional

Rahasia Harta Kuno Dvaravati Terungkap di Thailand Utara
Formasi beberapa jet tempur terbang berbaris di langit yang mendung.

Internasional

Serpihan Rudal di Al Barsha Tewaskan Warga Pakistan
Pemain Barcelona merayakan gol saat menghadapi Racing Santander di Copa del Rey 2026

Internasional

Flick Puji Kerja Keras dan Mentalitas Barcelona
Penyanyi Nigeria Ifunanya Nwangene saat tampil di The Voice Nigeria

Internasional

Penyanyi Nigeria Ifunanya Nwangene Tewas Digigit Ular
Pelayat berkumpul di Masjid Imam Ali Homs usai bom

Internasional

Ledakan Bom Saat Salat Jumat Guncang Masjid Homs
Pemain Tottenham Hotspur berlatih menghadapi tekanan degradasi di Liga Inggris

Internasional

Tottenham Terancam Degradasi, 15 Pemain Bisa Pergi